Pesan ini diungkapkan Sekretaris Menpora, Alfitra Salamm, dalam peluncuran buku Asian Games IV 1962, yang ditulis oleh Amin Rahayu, di Wisma Kemenpora, Senayan, Jakarta Rabu (18/3/2015) pagi.
Buku setebal 401 halaman itu menceritakan tentang Asian Games 1962 di Jakarta, yang diharapkan bisa menjadi kampanye sebelum Asian Games 2018 benar-benar resmi digelar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misal sepak takraw atau pencak silat karena memang itu belum ada. Jadi sebenarnya peluncuran buku yang ditulis Amin Rahayu ini sangat bagus sekali dan momentumnya tepat untuk memberikan motivasi kepada mahasiwa-mahasiswa di Indonesia," sambungnya.
βAlfitra berharap dengan adanya peluncuran buku ini bisa menjadi motivasi bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi para pelaku olahraga. Terlebih Indonesia saat ini tengah mempersiapkan diri menyambut Asian Games 2018.
"Karena di Asian Games 1962 saja Indonesia bisa jadi juara dua. Nah, kita sedang mempersiapkan Asian Games 2018, meski nanti kita tidak bisa jadi juara dua di Asian Games nanti, spirit Asian Games 1962 bisa melekat pada diri atlet Indonesia. Bahwa Indonesia pernah besar di Asia," jelasnya.
β"Selain itu, dengan buku ini kita dapat mensosialisasikan program-program Asian Games kepada masyarakat Indonesia. Karena sukses Asian Games tidak tergantung kepada Jakarta, Jawa Barat dan Palembang saja, tapi seluruh masyarakat Indonesia. Dan, keberhasilan Asian Games bukan bukan hanya tergantung Kemenpora ini adalah pekerjaan -pekerjaan negara dan kami harapkan dukungan semua pihak."
Sementara itu, sang penulis, menyatakan buku ini merupakan hasil dari tesis S2 (Strata 2) jurusan sejarah yang ia lakukan di tahun 2012.
"Proses pengerjaannya yaitu saat saya masih kuliah mengambil jurusan sejarah S2 di Universitas Indonesia selama tiga tahun. Nah, ada waktu jeda satu tahun untuk melengkapi semua, maka jadilah buku ini. Jadi sekitar 2012-2014 ," kata Amin, dalam kesempatan yang sama.
Amin menambahkan, bawasannya ada pelajaran yang bisa dipetik dalam perhelatan Asian Games pada 53 tahun lalu.
"Saya melihat tidak ada artinya sebuah bangsa yang besar kalau tidak memiliki harga diri. Ini pelajaran yang saya petik dari sejarah Asian Games (1962)," katanya.
Harga diri yang dimaksud adalah Indonesia yang sekarang harus mempunyai motivasi yang besar untuk meraih prestasi yang gemilang.
(mcy/a2s)











































