Salah satu program yang hari ini ia lakukan adalah melakukan pemantauan ke pelatnas beberapa cabang olahraga di Jakarta. Dari situ ia menemukan masalah yang kerap jadi langganan setiap akan ada event multicabang internasional: keterlambatan perlengkapan latihan/tanding.
[Baca: Taufik Hidayat Blusukan ke Pelatnas SEA Games]
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya, kalau melihat fasilitas, dari dulu prihatin lah. Kita berharap saja, apalagi nanti 2018 ada Asian Games, pemerintah bisa membangun fasilitas yang lebih baik dan mumpuni. Kadang kala kita masuk di tempat latihan yang tidak bagus kan jadi kurang nyaman," ujarnya.
"Dan kalau bisa dibilang sebenanarya potensi banyak. Kalau memang bisa dimanfaatkan, bisa dirawat tempat-tempatnya bisa lebih bagus lagi. Cuma pemerintah mau apa tidak. Ini 'kan tanggung jawab pemerintah."
Menjadi ketua kontingen tim olahraga memang baru pertama kali digeluti Taufik. Apalagi ia langsung dipercaya memimpin negara di SEA Games. Meski begitu ia mengaku sudah melakukan koordinasi yang baik dengan Satlak Prima untuk mempelajari tugasnya itu.
"Selama ini jalan baik-baik saja (dengan Satlak Prima). Saya sudah bertemu dengan Pak Suwarno (Ketua Satlak Prima). Saya banyak belajar, tapi tidak hanya dari dia, mantan CdM lain 'kan ada. Cuma setiap orang punya gaya masing-masing dan saya sudah sampaikan itu kepada Pak Warno, deputi Kemenpora, dan Menpora. Saya ini bukan CdM seperti yang lain. Saya masih atlet dan ngomongnya seperti ni. Toh CdM 'kan cuma amanah," ucapnya.
Ia juga sudah punya rencana tersendiri untuk menyatukan kekompakan kontingen. Jika sebelumnya atlet kerap diajak berwisata alam untuk refreshing, Taufik sudah berancang-ancang membuat malam silaturahmi untuk para atlet.
"Ya inginnya mengumpulkan mereka bersama. Outbound nggak usah. Kasian kan kalau sedang latihan diganggu. Saya pun pernah merasakan itu saat menjadi atlet. Lagi pelatnas harus pergi ke luar kota. Tapi cukup satu malam saja silahturahmi. Kita kumpul bareng, buat acara entertaiment dan acara hiburan. Di situ sama atlet chit chat. Suasana pertemuan jangan juga jadi kaku karena mentang-mentang mengundang pejabat. Jadi siapa yang mau nanya atau apa, dari cabang saja, bebas."
Menyoal target, peraih medali emas Olimpiade 2004 di Athena itu tidak menjawab secara gamblang. Pemerintah sendiri telah menargetkan posisi runner-up.
"Kita yang terbaik saja, lihat by data. Setiap orang punya cita-cita tinggi. realistis tidak runner-up? Sah-sah saja. Kalau by data ya peringkat tiga atau empat masih normal. Kalau dua, ya lihat dengan kekurangan kita talet harus fokus. Jadi buat saya sendiri peringkat dua bagus, ngincernya sih satu. Tapi dengan kondisi atlet ini, lihat saja positifnya," simpulnya.
(mcy/a2s)











































