'Indonesia Sulit Berprestasi di Asian Games 2018 Jika Tidak Ada Terobosan'

'Indonesia Sulit Berprestasi di Asian Games 2018 Jika Tidak Ada Terobosan'

- Sport
Jumat, 15 Mei 2015 23:13 WIB
Jakarta - Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2019 tentu punya target untuk finis setinggi mungkin. Namun hal itu sulit dilakukan jika Indonesia tidak melakukan terobosan baru dalam bidang olahraga untuk tiga tahun ke depan.

Penilaian itu keluar dari mulut eks atlet renang Indonesia, Richard Sam Bera, yang juga pernah tiga kali ikut Asian Games . Terobosan baru yang dimaksud Richard adalah soal pembinaan atlet jangka panjang, yang memang kerap jadi masalah di Tanah Air.

Padahal hal itu perlu dilakukan demi menciptakan atlet yang siap berlaga di Asian Games tiga tahun mendatang dan memenuhi target 18 emas dari pemerintah Indonesia, yang bisa mengantarkan 'Merah Putih' duduk di posisi 10 besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan sudah terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) maka pihak panitia penyelenggara sudah harus bergerak cepat karena tidak adanya lagi halangan, baik itu dari sisi persiapan atlet maupun sarana pendukung.

"Memang kita harus bergerak cepat ya. Dengan sudah ditanda tanganinya Keppres ini, harapannya tentu kita harus mulai bergerak di berbagai sektor. Yang utamanya adalah pembentukan panitia tim inti, dan yang kedua tentu persiapan laporan progress kita kepada OCA pada 21 Mei nanti," kata Richard usai rapat di Kantor KOI, Senayan, Jumat (15/5).

"Ini penting mengingat waktu yang kita punya singkat sementara kegiatan yang harus dilakukan cukup banyak di berbagai bidang. Di samping kita juga harus mulai merenovasi sejumlah venue," lanjutnya.

"Prestasi kontingan kalau kita melihat pola pembinaan yang telah kita lakukan belakangan ini untuk target 10 besar memang akan berat. Oleh karena itu, untuk Asian Games 2018 perlu ada terobosan-terobosan baru. Seperti terobosan pembinaan baru yang bisa memperbaiki situasi sebelumnya," paparnya.

"Pembinaan jangka panjang yang dimaksud lebih kepada kejelasan program dari high performance-nya seperti apa program elit dan prima itu harus kita pikirkan lagi. Perlu dibenahi lagi," jelasnya.

Sayangnya, usulan pembinaan jangka panjang sebenarnya sudah sejak beberapa tahun belakangan dicetuskan. Namun yang terjadi justru selalu sama dan tidak ada perubahan. Persoalan peralatan dan uang saku yang telat bahkan sudah lumrah terjadi di tengah persiapan menuju ajang multievent.

"Ya, memang selalu kendalanya tahun ke tahun sama saja. Makanya itu yang perlu kita pikirkan dan benahi mumpung masih ada waktu tiga tahun. Ini jika semua berjalan baik untuk mencapai target 10 besar Asia, saya pikir bisa. Sebaliknya kalau sama saja ya target itu akan berat," tutupnya.

(mcy/mrp)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads