Triya yang merupakan atlet compound putri yang dipersiapan untuk mengikuti SEA Games 2015 di Singapura batal berpartisipasi karena tersandung masalah doping. Usai meraih medali perunggu di Kejuaraan Asia yang berlangsung di Bangkok, Thailand, Maret lalu, sampel urinnya gagal melewati uji doping.
Saat dicek, tubuh Triya menyimpan kandungan Sibutramin. Dalam regulasi Badan Antidoping Dunia (WADA), zat tersebut dilarang karena bisa menimbulkan efek penurunan berat badan secara drastis.
Manajer tim nasional panahan Adhi Purnomo membenarkan informasi tersebut dan surat keputusan hukuman pun sudah keluar dari FITA (Federasi Panahan Internasional) per 20 Mei lalu. Triya mendapat hukuman delapan bulan dilarang bertanding di event internasional dimulai dari sejak sampel urin ditemukan yakni 20 Maret hingga 19 Oktober mendatang.
"Iya benar Triya diberi sanksi delapan bulan tidak bisa ikut bertanding di ajang internasional," kata Adhi ketika ditemui di sela latihan panahan di Senayan, Jakarta, Kamis (21/5).
Perpani pun memilih Nursa Fitriana --seorang atlet dari Kalimantan-- sebagai atlet yang tepat untuk menggantikan Triya. Nursa terpilih karena menyesuaikan dengan perolehan peringkatnya dari seleksi nasional yang ditetapkan PP Perpani. Nursa masuk peringkat kelima, setelah Dellie Threesyadinda, Rona Siska Sari, Triya, kemudian Sri Ranti.
"Jadi sebenarnya untuk compound beregu putri itu ada empat. Isinya Dellie, Rona, Triya, dan Sri Ranti. Tapi ternyata Sri Ranti hamil. Jadilah hanya tiga orang. Rupanya, Triya pulang dari Bangkok juga terkena kasus doping. Makanya kami memanggil Nursa. Kebetulan juga dia merupakan peringkat kelima di seleknas," jelasnya.
Adhi mengakui kalau Nursa belum begitu klop saat digabungkan dengan Dellie dan Rona. Tapi pihaknya bersama pelatih mencoba menciptakan suasana sebaik mungkin agar tercipta kekompakan di kelompok tersebut.
Selain menciptakan kondisi yang kompak, Adhi juga sudah mulai mewanti-wanti para atletnya untuk lebih menjaga diri, utamanya dalam hal penggunaan obat dan makanan yang diasup.
"Intinya anak-anak sudah tahu. Jadi kalau ada obat koordinasi dengan KONI dan KOI. Kami juga sudah bekali buku doping untuk mereka. Semua atlet sudah memegangnya. Ini penting karena kami tidak bisa mengawasi mereka 24 jam. Sekarang tinggal kesadaran atletnya," ucapnya.
(Mercy Raya/Novitasari Dewi Salusi)











































