Senam Kejar Satu Emas di SEA Games 2015

Senam Kejar Satu Emas di SEA Games 2015

Mercy Raya - Sport
Sabtu, 23 Mei 2015 06:52 WIB
Senam Kejar Satu Emas di SEA Games 2015
istimewa
Jakarta - Menatap SEA Games 2015 yang sebentar lagi akan dimulai, salah satu cabang olahraga senam terus fokus mematangkan persiapan. Di Gedung Senam Raden Inten, Jakarta Timur, para atlet senam proyeksi SEA Games menempa diri.

Di gedung itu pula, teriakan pelatih yang juga mantan atlet senam era 1900-an, Jonathan M. Sianturi, menggema seraya mengintruksikan para atletnya untuk terus berlatih.

Terbukti, ketika Jonathan menerima ajakan wawancara dari para pewarta, ia tak pernah berhenti memperhatikan atletnya. Sekali atletnya berhenti, suara lantang Jonathan langsung terdengar agar si atlet tak menghentikan pegerakannnya.

"Mereka itu mesti diteriaki dan disamperin. Kalau engga ya begitu berhenti," seloroh Jonatan.

Wajar saja ia memperlakukan atletnya sedemikian rupa. Bukan untuk memaksa tapi ia ingin atletnya bisa tampil maksimal di pertandingan nanti. Caranya dengan terus menyempurnakan gerakan saat latihan.

"Sekarang ini persiapan sudah masuk tahap 85-90 persen, jadi sudah masuk pada tahap penyempurnaan. Iyalah apa lagi? Waktu pertandingan sudah semakin dekat," katanya.

PB Persani sendiri menyiapkan sembilan atlet yang akan mengikuti 12 nomor pertandingan. Tiga nomor untuk artistik putri, delapan nomor untuk artistik putra, dan satu nomor untuk ritmik.

Dari nomor-nomor tersebut, baik PB Persani maupun Satlak Prima sepakat menargetkan satu emas dari nomor artistic putra yaitu M. Tri Saputra, yang meraih medali serupa di SEA Games 2011.

"Tri punya pelatih sendiri dan sekarang masih di Qatar. Saat ini saya pegang atlet Roni Saputra. Di SEA Games 2011 dia meraih perak. Harapan saya tentu atlet ini minimal bisa mempertahankan medali seperti dua tahun lalu, sama seperti Tri diharapkan bisa mempertahankan prestasi waktu itu. Ya walau begitu diharapkan nomor-nomor lain juga bisa menyumbang medali," tambahnya.

Guna mengejar prestasi tersebut, Jonathan mengaku sudah mengikut sertakan atletnya pada Kejuaran Dunia di Qatar akhir Maret lalu.

"Kemarin di Qatar perfoma mereka capai 80-85 persen. Itu sudah baik. Makanya sekarang saya ingin meningkatkan lebih dari situ. Minimal nanti saat eksekusinya (pertandingan) capai 90-95 persen."

"Kenapa bukan 100 persen? Kalau 100 persen itu si atlet sudah sempurna dan menjadi juara dunia. Dan itu sangat jarang terjadi. Sebab pada saat pelaksanaannya tentu banyak yang dinilai."

Ada empat hal inti yang dinilai pada saat pelaksanaan pertandingan seperti tingkat kerapian, ketepatan pendaratan, ketepatan ketinggian, serta ketepatan bentuk seperti apa yang diinginkan di buku kode (buku panduan tanding senam seluruh dunia).

"Tapi untuk menjaga mereka agar bisa pada peak yang diinginkan tentu mereka harus dijaga. Minimal jangan sampai terjadi cedera," jelasnya.

"Artinya tidak boleh memaksa yaitu tidak boleh melebihi kemempuan si atletnya sendiri. Misalnya, hari ini saya memberikan latihan berat. Besoknya latihannya tidak bisa seperti itu lagi tapi harus diturunkan. Minimal kita ritme irama pertandingan. Jadi dari high langsung low."

"Kami juga menerapkan beberapa simulasi ringan seperti hari ini. Tapi sayangnya kami punya sedikit masalah karena enggak punya wasit yang kredibel untuk menjuri atlet secara internasional. Karena saat bertanding itu kami tidak hanya perlu atlet tapi juga wasit."

Menariknya tak hanya wasit yang jadi kendala mereka, perlengkapan latihan yang telat datang serta perlengkapan tanding yang belum juga datang bikin mereka khawatir.

"Peralatan latihan sudah tapi tanding yang belum. Idealnya peralatan itu datangnya kemarin-kemarin seperti pakaian tanding dan protector. Tapi kenyataannya belum. Perlu adaptasi? Apapun itu yang namanya hidup perlu adapatasi. Tapi kalau nantinya datangnya mepet, pakaian yang kami dapat sebelumnya dipakai dulu. Nanti baru kompetisi berikutnya baru pakai yang baru. Walau sebenarnya tidak layak. Itu plan B saya dan itu cara kami menyiasatinya," demikian dia.

(Mercy Raya/Mohammad Resha Pratama)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads