Ketua Satlak Prima Suwarno, yang bertugas sebagai observer di SEA Games 2015 Singapura untuk Indonesia, menilai tuan rumah sangat serius mempersiapkan atletnya. Selain Singapura, persiapan dan langkah apik juga tampak di Vietnam dan Malaysia.
βSingapura sangat serius persiapkan atletnya. Dia tidak mau tampil menjadi tuan rumah SEA Games 2011 dan memilih untuk menghindari SEA Games 2013, karena ingin menyiapkan atlet dengan baik untuk mempersembahkan prestasi dalam rangka ulang tahun Singapura bulan Agustus (2015). Caranya dengan membina atlet sungguh-sungguh,β kata Suwarno.
βYang kedua saya lihat prestasi Vietnam dan Malasyia di SEA Games ini meningkat. Vietnam itu banyak angkatan bersenjatanya dan mereka jadikan itu atlet, khususnya atlet beladiri. Sedangkan Malaysia mengirimkan atletnya ke luar negeri, ke Amerika, Malaysia, dan China. Karena mereka persiapan untuk menjadi tuan rumah SEA Games 2017 jadi lonjakannya sedemikian rupa.β
βBeda dengan Myanmar. Karena selesai jadi tuan rumah SEA Games (2013), gara-gara cabor dan nomornya tidak standar sehingga anjloknya gak ukuran. Sedangkan Indonesia bergerak tapi tidak cepat,β ujarnya menilai.
Menurut pria yang akrab disapa Warno itu, lambatnya peningkatan Indonesia dikarenakan program pelatnas yang sangat bergantung dengan APBN-Perubahan, yang baru bisa cair pada bulan Februari kemarin. Lambatnya pencairan dana itu pada akhirnya memengaruhi program-program persiapan atlet.
βAsal Anda tahu pelaksanaan training camp baru ada karena APBN-P turun. Kalau tidak turun maka Indonesia tidak bisa melaksanakan training camp. APBN-P itu Februari. Keputusan training camp itu baru Maret.β
Maka dari itu, tak heran jika beberapa cabor akhirnya tak bisa memanfaatkan dana itu secara maksimal. Ia mengambil contoh cabang renang, yang seharusnya berangkat untuk pelatihan bulan Januari ke Australia tapi akhirnya baru terwujud Maret.
"Ini kan sudah kehilangan waktu tiga bulan. Padahal rencana awal akan dibiayai oleh cabornya sendiri, tapi Ketum PRSI tidak mau keluar duit dan menunggu alokasi anggaran Prima," kata Warno.
"Berangkat satu bulan. Begitu di Perth mau diubah program teknisnya tidak mungkin. Akhirnya cuma latihan biasa saja seperti di Indonesia, cuma beda tempat saja. Jadi itu yang terjadi di cabor-cabor itu."
"Makanya saya berharap sekali ke depan jumlah try out dan training camp itu bisa diperbanyak."
Sementara menyoal penyelenggaran, Warno berharap Indonesia bisa mengadopsi kesiapan venue-venue di Singapura. Minimal semua venue harus berstandar internasional.
βPertama venuenya harus standar internasional, transportasinya harus baik, kualitas pelayanannya di venue-venue juga harus siap, Singapura memenuhi itu semua. Mereka juga bisa memanfaatkan venue portable seperti buat judo dan tenis,β pungkasnya.
(mcy/raw)











































