Prestasi Indonesia seolah mundur sepuluh tahun kalau menilik hasil di SEA Games 2015. 'Merah Putih' hanya ada di urutan kelima dengan koleksi 47 emas, 61 perak, dan 74 perunggu. Hasil itu seolah mengulang torehan 2005, Indonesia hanya ada di peringkat kelima.
Sudah menjadi rahasia umum, persiapan para atlet menuju SEA Games 2015 memang amburadul. Uang saku tak lancar, infrastruktur yang memprihatinkan, peralatan latih dan tanding yang tak kunjung datang, serta masih adanya negosiasi cabang olahraga sampai menjelang keberangkatan menjadi cerita yang terulang lagi. Eh, para petinggi lembaga masih saja berseteru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KONI mempunyai hitungan berbeda. Selaras dengan Prima mereka mematok target 46 emas. Menurut Tono data itu didapatkan dari analisis kekuatan masing-masing cabang olahraga.
Padahal misi awalnya, Prima seharusnya bisa menjadi sebuah wadah yang mengakomodasi kemenpora dan KONI demi meraih prestasi terbaik. Ya, Prima adalah bentukan Kemenpora. Saat ini, Tono yang ketua umum KONI menjabat sebagai dewan pelaksana Prima.
Tapi, Tono bersikukuh sudah berada pada jalur yang tepat dan pemerintah melenceng.
"(Hasil ini) sangat-sangat tidak meleset dari perkiraan. Kami bukan paranormal tapi melakukan analisis sesuai dengan buku yang sudah kami buat mengenai tantangan dan hambatan yang akan dihadapi," kata Tono kepada detikSport, Rabu (24/6/2015). Rabu (24/6/2015).
"Kami tak pernah diajak komunikasi oleh pemerintah. Tidak pernah. Hanya evaluasi tidak ada perubahan. Setelah evaluasi pasti sama lagi, tak ada perubahan. Lihat evaluasi saya dua tahun lalu dengan paparan kali ini, pasti sama saja.
"Waktu saya jadi Kasatlak Prima, bukan saya mau membandingkan atau menganggap saya lebih bagus, tapi pendelegasian kepada Kasatlak Prima bagus sekali.
"Ini juga pengaruh yang sama dengan ada pemisahan KONI dan KOI. Ini masuk dalam persoalan perlu dievaluasi. Waktu 2011 itu kan tidak ada masalah (pemisahan KONI dan KOI)," jelas dia.
(mcy/fem)










































