"Urusan Alfin tak hanya terkait sepakbola tapi seluruh atlet cabang olahraga. Saya kira ke depan harus ada kebijakan meng-cover dan mengasuransikan mereka di BPJS," kata Imam di Kantor Kemenpora, Jakarta, Senin (29/6/2015).
"Upaya-upaya penting bagaimana mereka harus di-update secara langsung dan cabor-cabor harus proaktif untuk memberikan dukungan agar seluruh atletnya ter-input dengan baik di BPJS. Itu yang penting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alfin divonis tak bisa main selama satu tahun setelah mengalami kecelakaan, ditabrak mobil. Hanya saja, biaya pengobatan dan perawatan Alfin tidak terpenuhi semua, karena pelaku hanya membayar sebagian saja. Ironinya, klubnya, Persija Jakarta, belum membayar gajinya sejak awal tahun ini, dan juga cuma membantu Rp 5 juta untuk pengobatan. PSSI juga dikritik APPI karena tidak memberi perhatian. [Baca: Bepe Sindir Pengurus PSSI yang Tak Datang ke Laga Amal untuk Alfin]
Imam menyadari bahwa persoalan asuransi kesehatan atau jaminan atlet sudah lama jadi masalah dan hingga kini belum tersolusikan. Di era Menpora Roy Suryo, misalnya, pernah ada kasus pemain Pelita Bandung Raya (PBR) asal Mali, Camara Sekou,terkena serang jantung saat menjalani latihan.
"Terus terang, sebenarnya ini soal lama yang baru terungkap sekarang. Tapi karena ada kejadian seperti ini jadi pintu masuk buat kita semua untuk bisa mulai menyadari, sehingga peristiwa Alfin ini tidak terulang kembali. Meski alasannya kecelakaan di luar, yang penting sisi kemanusiaannya harus ditonjolkan," paparnya.
Imam juga berencana untuk memberi bonus kepada atlet berprestasi tak cuma uang tunai, tapi juga yang sifatnya berkelanjutan seperti asuransi kesehatan atau pendidikan.
"Makanya kami akan lihat regulasinya seperti apa. Apakah dari APBN bisa, karena BPJS itu solusi buat kita semua. Kami akan urai kebijakan mana yang akhirnya membuat terkendala," pungkasnya.
(mcy/a2s)










































