Kuda membutuhkan dokter dan asupan makanan yang baik. Hal inilah yang mendasari Federasi Equestrian Indonesia (EFI) meminta agar kuda bisa diberi SK (Surat Keputusan) dari pemerintah selayaknya atlet.
"Dalam olahraga ini, kuda itu juga atlet yang harus dilatih pembentukan ototnya, harus dilatih selama 45 menit setiap hari, makanan dan dokter harus disediakan. Karena kalau tidak dilatih kuda tidak bisa melakukan gerakan-gerakan yang diminta demi kebutuhan pertandingan," kata Sekretaris Jendral EFI, Prasetyo Sumiskum, saat ditemui di Senayan, Jakarta, Jumat (3/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai gambaran, sebelum memasuki arena pertandingan kuda perlu dicek kesehatannya. Termasuk untuk menghadapi kualifikasi Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, pada Agustus dan September mendatang.
Seekor kuda tidak bisa diubah jenisnya. Jika saat kualifikasi ia menggunakan kuda A, katakanlah Golden Boy, maka kuda jenis Golden Boy itu yang harus dipakai terus sampai Olimpiade. Yang kedua, kuda juga harus melakukan veterinary check, di mana seekor kuda itu harus diperiksa apakah layak ikut pertandingan atau tidak; kesehatannya bagus atau tidak, pincang atau tidak. Itu pun yang memeriksa adalah juri dan dokter kuda, serta di hadapan lima juri yang akan menilai dalam pertandingan.
Jika kesehatannya dinyatakan bagus, tidak pincang, barulah ada pernyataan kuda A bisa ikut pertandingan. Tak berhenti sampai di situ, saat bertanding seekor kuda bersama atletnya harus bekerja sama untuk melakukan gerakan-gerakan yang sudah ditentukan sebelumnya oleh juri.
"Jadi, biasanya juri itu memegang beberapa point test. Nah beberapa point test itulah yang harus dilakukan kuda dan atlet yang menungganginya. Juri yang menilai pun sifatnya subyektif. Jadi, tiap gerakan ada yang dinilai dari beberapa sudut, dan setiap sudut punya jurinya sendiri, yang nilainya digabung semua lalu dibagi jumlah juri yang ada. Di situlah nilai persentase seorang atlet akan keluar," papar Tion --panggilan akarab Sekjen EFI ini.
Saat ini, menurut Tion, kuda yang dimiliki Larasati --satu-satunya atlet yang diproyeksikan ke Olimpiade-- tengah dirawat di Jerman. Padahal biaya perawatan untuk kuda di Jerman itu tidak murah, karena harus membiayai perawat dan dokter kuda di sana.
"Dokter hewan kalau ambil dari Jerman untuk kualifikasi bayarannya per hari bisa sampai 800 euro (sekitar Rp 11 juta) per hari. Jadi, kalau tidak di-SK-kan memang biayanya sangat mahal sekali. Sementara kami juga butuh support dari pemerintah dalam kasus ini," urainya.
Sementara itu, Deputi IV Bidang Pembinaan Prestasi Kemenpora, Djoko Pekik Irianto, menjelaskan bahwa sistem anggaran yang diterapkan Satlak Prima saat ini belum bisa memberikan tanggungan biaya bulanan untuk hewan.
"Bukannya tak mau (memasukan ke dalam SK), namun secara mekanisme anggaran belum bisa. Biaya kuda memang termasuk mahal, itu kami akui. Namun, tak bisa kami akali misalnya dengan dimasukkan ke atlet karena unit cost-nya itu per satu orang. Kami akan berupaya mencari solusi terbaik yang tak melanggar aturan, paling tidak untuk pengeluaran biaya makan kuda," kata Djoko.
(mcy/roz)











































