Jika Terpilih Jadi Kasatlak Prima, Anton Subowo Bakal Lepas Jabatan di PBSI dan BAC

Jika Terpilih Jadi Kasatlak Prima, Anton Subowo Bakal Lepas Jabatan di PBSI dan BAC

Mercy Raya - Sport
Jumat, 28 Agu 2015 16:58 WIB
Jakarta -

Salah satu calon Kasatlak Prima, Anton Subowo, bersedia untuk melepas jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal PBSI dan Presiden Konfederasi Bulutangkis Asia (Badminton Asia Confederation, BAC) jika nantinya dia terpilih.

Anton menjadi satu dari tujuh calon yang masuk dalam bursa pemilihan Kasatlak Prima‎ baru. ‎Selain dia, ada Ahmad Sucipto, Richard Sam Bera, Suwarno, Profesor Mulyana, dan Sasik Algadri.

Dari tujuh calon hampir semuanya punya bawaan jabatan. Tak terkecuali dengan Anton. Ia saat ini tengah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PP PBSI dan Presiden BAC.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada dasarnya begini, saya masuk ke badminton karena awalnya coba menyelematkan olahraga ini supaya selalu ada. Karena negara ini butuh badminton, untuk saat ini ya. Jadi misal bulutangkis ini hilang, Indonesia tidak akan mendapat medali. Itu niat dasar saya kenapa mau masuk badminton. Karena sebelumnya saya sama sekali tidak tahu soal bulutangkis," ungkap Anton, usai melalukan fit and proper test di Wisma Kemenpora.

"Tapi pada akhirnya kalau bisa menyelamatkan negara, kenapa tidak. Jadi kalau memang sudah kebijakannya seperti itu, ya, mau tidak mau (harus lepas jabatan)," tambahnya.

Artinya, lanjut anak dari Rita Subowo itu, jika Kasatlak tidak boleh rangkap jabatan maka dia akan memilih melepas dua posisi yang sudah lebih dulu dia punya.

"Mungkin sedih ya. Tapi bukan berarti saya akan meninggalkan bulutangkis begitu saja. Tapi kalau itu suatu kebijakan (larangan rangkap jabatan) maka saya harus (melepaskan) jabatan itu," ungkapnya.

Saat ditanya soal visi dan misi, dia menyebut akan melakukan perubahan dengan mengedepankan sinergi berkesinambungan antara pemangku kebijakan dan pelaksana kebijakan.

"Karena olahraga itu bukan sesuatu yang bisa langsung jadi, tapi perlu waktu. Jadi, kalau sudah buat program A lalu berubah lagi, berubah lagi, pasti berantakan, itu sudah kami lihat sendiri di PBSI‎."

"Untuk itu, kita juga perlu membuat program sampai Olimpiade 2024. Jadi pada saat Olimpiade 2020 sudah siap juga calon-calonnya seperti apa," simpulnya.

(mcy/din)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads