Jelang PON 2016, Saling Bajak Atlet Masih Marak

Jelang PON 2016, Saling Bajak Atlet Masih Marak

Mercy Raya - Sport
Selasa, 01 Sep 2015 19:09 WIB
Jakarta - Pengprov membajak atlet dari Pengprov lain jelang digelarnya PON sudah jadi hal yang lumrah. Dengan aturan yang ada kini, KONI menyebut hal itu bisa dihindari.
Β 
Aksi pembajakan atlet dari satu provinsi ke provinsi lain sudah puluhan tahun terjadi. Pembajakan atlet menjadi cara instan bagi sebuah provinsi meraih prestasi tinggi, karena mereka tinggal menyediakan uang untuk 'mentransfer' atlet-atlet dengan yang punya potensi besar meraih medali dari provinsi lain.

Kondisi serupa masih terjadi di PON 2016, yang akan dilangsungkan di Jawa Barat. Praktik bajak-membajak atlet masih banyak ditemui, yang salah satunya ditemui di cabang renang dan bowling. Baru-baru ini, perenang Jawa Barat yaitu Glenn Victor Susaanto dan Ressa Kania Dewi dipastikan akan memperkuat Jawa timur.

Kabarnya Jatim juga masih mengincar Triady Fauzy Sidiq, peraih tujuh medali emas di PON 2012 Riau lalu. Tak tanggung-tanggung, mahar senilai 780 juta dikabarkan sudah disiapkan Jatim untuk Triady.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, peboling Jawa Barat, Tannya Roumimper, Putri Astari, Billy M. Islam, Oscar, dan Fachry Askary, juga diboyong Jawa Timur.
Β 
Wakil Ketua KONI Pusat, Suwarno, mengatakan praktik pembajakan atlet daerah jelang PON sebenarnya masih bisa dibatasi. Mutasi atlet dari satu provinsi ke provinsi lain harus dilakukan selambat-lambatnya dua tahun sebelum PON. Demikian tertuang dalam Surat Keputusan (SK) KONI Pusat Nomor 56 Tahun 2010 Pasal 12.

Jika ada provinsi yang membajak atlet kurang dari periode yang sudah ditetapkan, KONI masih punya senjata untuk menghambat kepindahan tersebut melalui Tim Keabsahan KONI.

"Harusnya masing-masing daerah sudah memahami pedoman dan aturan dari mutasi atlet, karena sudah sama-sama tahu. Jadi harusnya sudah paham dengan aturan main mutasi atlet. Tapi kalau memang hal itu (pembajakan atlet) masih ada, akan ada tim keabsahan dari kami,” kata Suwarno, ketika dihubungi Selasa (1/9/2015).
Β 
Entry by name PON 2016 baru akan dilakukan tahun depan. Dari situ akan diketahui atlet A milik Pengprov daerah mana, dan atlet B milik Pengprov daerah mana.

"Jika memang ada Pengprov yang ngotot tentu kan ada dewan hakim, di situlah akan diputuskan, dan Pengprov harus mematuhinya," ungkap Suwarno.

Sementara itu, pelatih tim renang Jawa Barat, Nizarudin, mengatakan dengan banyaknya atlet-atlet andalan mereka yang dibajak daerah lain membuat mereka kesulitan untuk memenuhi target perolehan medali pada PON mendatang.
Β 
"Ya, kalau kondisinya seperti ini sudah pasti berat (penuhi target)," kata Nizarudi, ketika dihubungi terpisah.

"Kami sedang mencari solusi untuk mengatasi kejadin ini. Karena nama-nama yang diincar Jawa Timur adalah atlet-atlet andalan kami dengan segudang prestasi tidak hanya di kancah nasional tapi juga internasional," tambahnya.

(mcy/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads