Pemerintah didesak untuk secepatnya menunjuk Chef de Mission (CdM) Olimpiade 2016. Tapi sosok yang nantinya menjabat posisi tersebut harus mengerti kondisi lapangan dan jangan lagi terpilih karena alasan politis.
Demikian diungkapkan pengamat olahraga yang kini menduduki Wakil Ketua PB PABBSI, Djoko Pramono. Penunjukan CdM dinilai mendesak karena Olimpiade tak sampai satu tahun lagi dimulai. Itu dilakukan untuk menghindari penunjukkan CdM yang mepet, seperti yang selama ini selalu terjadi, dan pada akhirnya tidak banyak membantu perjuangan atlet.
Orang yang nantinya dipilih jadi CdM juga wajib mengerti kondisi lapangan. Djoko menilai dalam beberapa kesempatan penunjukkan CdM berbau politis dan sosok yang ditunjuk tak sepenuhnya menguasai bidangnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diklaim Djoko, dirinya lah yang selalu menjadi back-up (pedamping) CdM yang sudah ditunjuk. Karena dinilai lebih paham soal teknis-teknis penyelenggaraan.
"Yang lalu-lalu saya yang selalu menjadi tatakannya (dari CdM). Misalnya menunjuk CdM siapa, lalu Pak Djoko nanti begini ya, atau apa. Makanya kadang-kadang CdM itu ditunjuk karena ada unsur-unsur politisnya," cetusnya.
Sekitar setahun menuju Olimpiade, dia berharap komando kontingen Indonesia nanti adalah mereka yang benar-benar mengerti kondisi lapangan dan dekat atlet.
"Jangan seperti kemarin (Asian Games 2014) ditinggal pergi. Tidak benarlah itu," cetusnya.
Sementara itu, Deputi V Bidang Harmonisasi dan Kemitraan, yang juga Kepala Komunikasi Publik Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto, menjamin jika pola penunjukan CdM tidak akan seperti Asian Games 2014 di Incheon dan SEA Games 2015 di Singapura. Pada dua event itu CdM dipilih hanya dua bulan sebelum ajang digelar.
"CdM akan segera ditetapkan oleh Bapak Menteri. Yang jelas polanya tidak akan sama seperti saat ajang di Incheon sama di Singapura, yang ditunjuk satu bulan sebelumnya. Tapi ini jauh-jauh hari," kata Gatot.
"Ini karena tantangan yang akan dihadapi lebih berat dan eventnya juga lebih besar, sehingga penunjukan ini bisa membuat fungsi CdM lebih optimal," lanjutnya.
Kendati begitu, ia mengakui, jika penunjukan CdM sudah terlambat dari usulan para pelaku olahraga, yang mendesak CdM harusnya ada minimal dua tahun sebelum event digelar.
"Kami masih menahannya karena Kemenpora saat ini masih berfokus pada penunjukan Kasatlak Prima, dan juga menunggu laporan dari Ade Lukman dulu, setelah rapat CdM di Brasil, juga supaya penunjukan CdM tidak melanggar aturan IOC," ungkapnya.
"Idealnya memang dua tahun. Apalagi pelatnas Olimpiade sudah dilakukan jauh-jauh hari. Tapi saat itu kami juga sedang kosentrasi juga untuk SEA Games, jadi perhitungannya paling maksimal pasca SEA Games," pungkasnya.
(mcy/din)











































