Ajang adu cepat mobil keluaran Italia itu sendiri baru diperkenalkan di seri kedua ISSOM tahun ini. Ada tiga kelas yang dipertandingkan yakni profesional, amatir, dan rookie (pemula), di mana dua pebalap nasional, Ananda Mikola dan Fitra Eri turun di kelas profesional. Sementara, tipe Lamborghini yang dipakai adalah Gallardo V-10 5.400cc keluaran tahun 2002.
Namun, Lamborghini yang turun tidak bisa sembarangan karena ada beberapa modifikasi yang harus dilakukan agar sesuai aturan balapan yang diterapkan oleh ABM Enterprise selaku penggagas ISSOM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu ada juga modifikasi di bagian suspensi serta ban, di mana ban slick (licin) dipakai khusus di lintasan kering. Lamborghini pun dibuat lebih rendah lagi, dekat dengan tanah, agar punya tingkat downforce yang bagus.
"Kalau di jalan raya, kita tidak bisa menikmati tenaga yang ada, tidak bisa maksimal. kalau di sirkuit, otomatis kita bisa merasakan tenaga yang luar biasa dan adrenalinnya sangat menakjubkan," tutur salah satu pebalap Lamborghini di ABM Motorsport, Paul Montolalu, dalam rilis yang diterima detikSport.
Adapun perbedaan juga terjadi dalam sistem perlombaan, di mana mengikuti Endurance Race yang biasa digelar di Amerika Serikat. Setiap tim diperbolehkan memiliki satu atau dua pebalap yan berada di dalam mobil dan boleh bergantian.
Ada juga kewajiban bagi setiap tim untuk masuk pit di lap ke-10 untuk melakukan pergantian pebalap.
"Yang menarik itu adanya pit in, di mana setiap tim yang turun boleh punya 1 atau 2 pebalap. Seperti balapan Endurance di Amerika Serikat. Di tengah balapan setiap tim harus mengganti pebalapnya, ini yang bikin tambah seru," timpal pebalap ABM Motorsport lainnya, Jimmy Lukita.
Ingin merasakan sensasi balapan Lamborghini? Datang saja ke sirkuit Sentul pada 26-27 September mendatang saat seri keempat ISSOM digelar.
(mrp/raw)











































