Ini diperlukan untuk menambah pengalaman bertanding, membiasakan diri lagi usai cedera, sekaligus melihat peta kekuatan lawan yang akan dihadapinya nanti. Demikian hal itu dikatakan pelatih lompat jauh I Ketut Pageh.
Dijelaskan dia, saat ini Maria tengah berada di Australia guna mengikuti kejuaraan The Athletics North Queensland Track and Field 2015, yang dihelat pada 25-27 September. Keikutsertaan Maria di Australia ini bukan mencari medali emas, namun lebih kepada menambah pengalaman bertanding.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maria mendapatkan tiket Olimpiade di nomor lompat jauh saat tampil di SEA Games 2015 di Singapura. Dia meraih emas dengan lompatan sejauh 6,70 meter. Jarak itu melampaui limit Olimpiade 6,55 meter.
Kendala besar mesti dihadapi Maria ketika ia tengah mempersiapkan diri jelang Olimpiade. Trauma cedera yang dialaminya saat di SEA Games 2015 masih menggelayut sehingga dibutuhkan kebiasaan bertanding di event-event internasional.
"Saya pribadi tidak menargetkan dia raih medali di Australia tapi lebih kepada kebiasaan dia bertanding. Karena Maria saat ini masih dalam tahap penyembuhan untuk menghilangkan trauma cedera yang dialaminya saat SEA Games di Singapura, Juni lalu."
"Makanya sepulang dari Australia, rencana saya adalah Maria bisa turun lagi di dua event internasional sebelum Olimpiade nanti. Saya sudah bicarakan ini ke PB PASI dan memang belum ada event terdekat setelah Australia itu," ungkapnya.
Alasan lainnya tentu terkait peta persaingan di Olimpiade mendatang. Diungkapkan Pageh, pesaing Maria di Olimpiade bukan lawan-lawan yang sembarangan. Peraih medali emas Asian Games 2014 ini setidaknya harus bisa melompat dengan jarak sekitar tujuh koma sekian meter untuk bawa pulang medali dari Brasil.
Pageh berkaca dari hasil Kejuaraan Dunia (IAAF World Championship) Atletik di Beijing, China, pada 22-30 Agustus lalu, peringkat satu sampai tiga mencapai lompatan 7 koma sekian meter. Maria tidak ikut dalam kejuaraan itu karena masih dalam pemilihan cedera.
“Maria harus punya lompatan dengan jarak 7 meter untuk rebut medali. Karena waktu kejuaraan dunia di Beijing itu rata-rata lompatan mencapai 7 koma sekian, meski belum sampai rekor. Karena rekor lompatan jauh itu 7,29 meter.”
Menurut Pageh, untuk mencapai angka tujuh meter sangat berat. Semua tergantung dari kedisiplinan atlet, nutrisi, hingga faktor kenyamanan atlet.
"Sebenarnya berat sekali. Waktu mencapai lompat 6,55 meter dan bisa berhasil lompat 6,70 meter saja harus ekstra keras latihannya. Si atelt harus disiplin, nutrisi, kenyamanan atlet, dan psikologi atlet baik dari lingkungan keluarga, standarisasi latihan," ungkapnya.
"Maria sangat disiplin tapi dia kan juga butuh nutrisi dan makanan. Untuk itu kami juga berharap kepada pemerintah agar uang makan dan lainnya agar bisa dipercepat. jangan sampai menjelang Olimpiade baru keluar. sebab kami butuh nutrisi dan makan. Selama ini nutrisi di kasih prima, tapi bukan setiap bulan tapi beberapa bulan," akunya. Sementara soal fasilitas lapangan sintetis, dijelaskan Pageh, sudah mulai menemui titik terang.
"Waktu seminar di Bali, Bapak Suwarno (Kasatlak Prima) mengatakan ada orang yang bersedia membantu PB PASI di Bali untuk menyediakan fasilitas lapangan itu."
(mcy/raw)










































