KOI mengklaim ada lima perusahaan Inggris diklaim mengajukan penawaran kerja sama dengan Indonesia dalam rangka persiapan Asian Games 2018. Kendati demikian, KOI masih harus mempertimbangkan masak-masak untuk menerima tawaran itu.
Demikian keterangan itu disampaikan Ketua Finance and Budgeting KOI, Ahmed Solihin, usai melakukan workshop bersama perwakilan dari Kedutaan Inggris, hari ini, Kamis (8/10/2015). Selain KOI, workshop juga dihadiri perwakilan dari Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Bappenas, Kepolisian, dan Deputi Kemenpora.
Ahmed mengatakan, workshop awalnya hanya untuk mendengarkan pemaparan Ketum KOI Rita Subowo terkait persiapan Asian Games 2018. Namun, workshop melebar karena beberapa perusahaan Inggris --yang difasilitasi oleh kedutaaan Inggris-- menawarkan kerja sama setelah mendengar paparan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya kami merespons dengan baik tawaran ini. Tapi, bukan berarti kami langsung menerima karena ini baru tahap wacana saja, belum masuk di dalam penawaran secara finansial," lanjutnya.
Di samping itu, pihak KOI juga belum memutuskan karena bukan hanya Inggris saja yang menawarkan kerj asama, tetapi ada juga tawaran dari negara lain seperti China dan Korea Selatan.
"Jadi yang datang ke sini sudah ada dari Korea Selatan dan China, bentuk penawarannya pun beragam. Ada yang IT, transportasi, atau lain-lain yang belum ada. Tapi, itu semua 'kan tidak bisa sembarangan kami putuskan, apalagi yang dipakai nantinya adalah uang negara. Tentu harus melalui aturan atau tata cara penggunaan anggaran yang ditetapkan pemerintah."
Namun, bicara peluang negara mana yang paling mungkin bisa diajak bekerjasama, Ahmed menyebut, semua negara memiliki peluang. Apalagi negara-negara tersebut adalah negara yang memang memiliki pengalaman dalam menggelar multi-ajang.
"Semua memberikan persentasi yang cukup baik dan sama-sama memiliki pengalaman dalam multi-event. Baik itu Inggris, China, maupun Korea Selatan. Jadi peluangnya, ya, sama. Tinggal nanti dilihat mana yang paling urgent dan penawarannnya yang paling murah," ungkapnya.
Ahmed sendiri mengatakan saat ini yang paling dibutuhkan Indonesia adalah IT&T (Informasi Teknologi dan komunikasi). "Sebenarnya semua bisa dikerjakan oleh Indoensia. Tapi, yang paling butuh bantuan adalah IT&T," katanya.
(mcy/roz)











































