Pecahnya tim penjaringan calon ketua umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dianggap membahayakan. Padahal, organisasi ini sedang dalam masa krusial karena mendekati Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.
Keprihatinan atas keadaan itu diungkapkan oleh βSekjen PP Pelti, Umbu Respati. Menurutnya, perpecahan di tubuh KOI akan memberi dampak negatif yang besar pada olahraga Indonesia, jika kekisruhan tidak terselesaikan sampai kongres bergulir akhir bulan ini.
"Di kongres nanti perwakilan dari Olympic Council of Asia (OCA) dan International Olympic Committee (IOC) pasti datang dan melihat. Jika kongres gagal karena ada dua tim penjaringan, bisa jadi OCA dan IOC akan memberikan peringatan. Bahkan suspend untuk Indonesia, yang dampaknya bisa sampai keikutsertaan Indonesia dalam multievent, termasuk soal tuan rumah Asian Games nanti," ungkap Umbu, Jumat (16/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jelang Kongres KOI yang akan dijadwalkan berlangsung 31 Oktober, muncul dua kubu tim penjaringan calon ketua umum. Tim yang pertama dibentuk oleh beberapa anggota KOI usai menggelar rapat di Gedung Serba Guna Senayan, sementara Tim Penjaringan kedua dibentuk oleh KOI.
Muncul dua tim ini awalnya ditengarai sebagai buntut Rapat Anggota Istimewa KOI di Hotel Peninsula, Jakarta, pada 28 September lalu. Ketua umum sekaligus pimpinan rapat, Rita Subowo, meminta adanya perubahan AD/ART. Namun permintaan itu tidak persetujuan oleh sebagian anggota rapat, yang terdiri dari 27 Anggota Biasa dan 12 Anggota Luar Biasa KOI.
Rapat pun ditutup dengan klaim sepihak oleh pimpinan rapat. Imbasnya, 27 anggota biasa dan 12 anggota luar biasa KOI membentuk sebuah tim negosiasi dan koordinasi yang dikomandoi Doddy Setiawan, dan Tim Penjaringan yang diketuai Timbul Thomas Lubis.
"Kita ini kan orang yang taat azas, dan ada kepentingan besar di balik ini. Jadi singkirkan ego pribadi agar kongres bisa berjalan baik," βimbuh Umbu lagi.
Senada, sepepuh olahraga Indonesia, Agum Gumelar, berharap konflik KOI tidak berlanjut hingga berlangsungnya Kongres 31 Oktober nanti. Sebab, kesuksesan Kongres berhubungan dengan kelancaran digelarnya Asian Games. Jika mengurus kongres saja tidak becus, apalagi multievent.
"Saya prihatin dan kecewa kenapa hal ini bisa terjadi. Padahal warisan olahraga yang utama adalah persahabatan. Tapi yang terjadi di dalam organisasi olahraga kita tidak seperti itu," kata Agum dalam kesempatan terpisah.
"Masih ada waktu untuk bisa menyamakan persepsi. βJadi hilangkanlah ego masing-masing. Karena kalau tidak selesai, saya tidak bisa membayangkan kongres akan seperti apa jadinya. Selain itu, jalan menuju Asian Games juga bakal terjal karena kepercayaan dunia luar bisa saja berkurang, atau bahkan mempertimbangkan kembali penunjukan tuan rumah Asian Games. Di kongres IOC dan OCA pasti datang untuk memantau kita (Indonesia)."
Pria yang antara lain pernah menjabat sebagai ketua umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan PSSI ini pun bersedia jika diminta untuk menengahi persoalan kedua kubu.
"Saya demi kebaikan olahraga selalu siap. Tetapi saya tidak bisa menyodorkan diri juga. Pun jika pemerintah bisa menengahi misalnya, saya ingin pemerintah bisa menyelesaikan semua sebagai mitra dan jangan sampai malah membuat masalah baru," tukasnya.
(mcy/a2s)











































