Olahraga saat ini sudah bisa dijadikan sebagai sarana promosi pariwisata. Ajang Mandiri Jakarta Marathon 2015 merupakan salah satu buktinya.
Jakarta Marathon pertama kali digelar tiga tahun lalu. Di setiap tahun penyelenggaraannya, jumlah peserta perhelatan ini selalu meningkat.
Di tahun 2013, ada 10 ribu peserta. Setahun berikutnya, tercatat ada 14.120 peserta. Sementara untuk ajang yang akan dihelat, Minggu (25/10/2015) akhir pekan ini, ada sebanyak 15 ribu peserta, yang 1.300 di antaranya merupakan pelari internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk tahun lalu saja, tercatat ada 18 persen hunian hotel yang naik. Tahun sebelumnya, huniannya meningkat 15 persen. Ajang ini juga bisa menjadi ajang promosi agar kebudayaan dan tempat wisata di DKI Jakarta bisa lebih terekspos," kata Esti kepara pewarta di Kartika Hall, Balai Kartini, Jakarta, Kamis (22/10/2015).
"Tahun ini kami mematok target ada 10 juta wisatawan mancanegara dan ada 250 juta pergerakan wisatawan domestik," imbuhnya.
Chairman sekaligus Co-Founder Jakarta Marathon, Sapta Nirwandar, mengungkapkan mimpinya agar ajang tahunan yang baru tiga kali digelar ini bisa naik kelas dan bisa go-internasional.
"Semoga ajang ini akan bisa menyamai loma-lomba marathon di luar negeri seperti di Paris, New York, Berlin, dan juga Jepang," harap Sapta.
"Keunikan Jakarta Marathon ini ada di titik-titik budaya. Cara memberi semangat di ajang ini dengan menggunakan kesenian daerah. Itu akan memberikan citra berbeda tentang Jakarta," imbuhnya.
Soal titik-titik cheering itu, CEO Inspiro, Ndang Mawardi memberikan penjelasan. "Untuk tahun ini ada 14 titik. 11 titik berisi kebudayaan, sementara 4 titik lainnya akan diisi Bank Mandiri selaku titel sponsor," ungkap Ndang.
"Di tahun-tahun ke depan, mungkin partisipasi dari dinas-dinas bisa ditingkatkan. Bisa saja titik-titik itu bisa untuk mempromosikan agenda wisata daerah, festival Danau Toba misalnya," imbuhnya.
Corporate Communications Head Bank Mandiri, Ahmad Reza, mengungkapkan bahwa event ini memang sudah bukan menjadi milik provonsi DKI Jakarta saja.
"Dengan adanya 1.300 pelari internasional dari 53 negara, ajang ini sudah menjadi bentuk informasi tentang Indonesia ke seluruh dunia," kata Reza.
(cas/a2s)










































