Dikukuhkan sebagai ketua baru Satlak Prima, Achmad Sutjipto ditargetkan pemerintah untuk bisa meningkatkan prestasi olahraga Indonesia di level internasional.
Salah satu bidikan utama adalah kembali meraih medali emas di pentas Olimpiade. Di Olimpiade 2012 Indonesia untuk pertama kalinya sejak 1992 tak berhasil merebut medali emas.
Pemerintah telah memasang targer agar di Rio de Janeiro 2016, pasukan "Merah Putih" bisa sedikitnya menyumbangkan dua medali emas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya, itu amanat. Tidak boleh ditawar. Artinya kami laksanakan," kata Sutjipto, Jumat (23/10/2015), menjawab tantangan Menpora Imam Nahrawi soal target yang dibebankan di era kepengurusannya.
"Tapi perlu diingat, olahraga itu tidak ada magical trick. Pelatih, pengurus, bukan tukang sulap. Olahraga itu ikut pada hukum alam. Kaidah-kaidah adalah hukum alam --siapa yang kuat, siapa yang tangguh dia yang menang. Itu yang harus kami latih. Yang saya harapkan tentu prosesnya bisa berjalan bagus, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT," lanjutnya.
Sutjipto, yang terakhir menjabat sebagai ketua umum Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI), diputuskan menjadi ketua baru Satlak Prima pada 12 Oktober lalu, menggantikan Suwarno.
"Prima itu harus membawa pesan perubahan. Sekutu kita adalah perubahan. Tapi bukan perubahan yang ngawur, tapi harus memiliki arah dan landasan yang kuat, semua ada standarisasi," tambah Sutjipto, mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) 1999-2001 itu.
"Olahraga modern adalah suatu olahraga yang terdiri dari sistem terpadu, yang merealisasikan elemen penting dan rumit. Kalau itu tidak ditata dengan baik maka hasilnya tidak akan baik.
"Pelatih misalnya. Pelatih sudah tidak bisa lagi hanya berdasarkan intuisi, mata, dan pengalaman dia. Pelatih itu harus di back-up penuh dengan ilmu pengetahuan keolahragaan. Tentu ini tidak gampang, melengkapkan pelatih yang biasa memakai intuisi dengan ilmu yang berdasarkan laboratorium," paparnya.
"Di sinilah tugas prima harus mengawinkan ini menjadi satu kesatuan, sehingga semua program latihan bisa betul-betul dilakukan secara ilmiah, atlet bisa berlatih dengan aman."
Pemerintah telah menganggarkan Rp 600 miliar kepada Satlak Prima untuk melaksanakan tugas-tugasnya.
(mcy/a2s)











































