Mengembalikan Semangat Olahraga lewat Hari Pahlawan

Mengembalikan Semangat Olahraga lewat Hari Pahlawan

Mercy Raya - Sport
Selasa, 10 Nov 2015 13:30 WIB
Mengembalikan Semangat Olahraga lewat Hari Pahlawan
Jakarta - Dewasa ini mungkin tak banyak anak-anak muda yang bercita-cita menjadi atlet. Tak banyak juga orangtua bahkan mantan atlet yang menginginkan anaknya mengikuti jejaknya sebagai olahragawan. Mereka lebih memilih anaknya menjadi pengusaha, atau bekerja di bidang lain.

Sangat mungkin, kondisi olahraga olahraga Indonesia yang saat ini jauh dari kata 'berprestasi', atau jaminan hari tua yang belum pasti, menjadi alasan kenapa menjadi olahragawan belum menjadi sebuah jalan pilihan penting di masa mendatang.

Di Hari Pahlawan yang jatuh pada setiap tanggal 10 November ini, upaya mengembalikan semangat menjadi olahragawan atau seorang atlet bukan tidak mungkin memberikan dampak yang luar biasa bagi publik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia punya cukup banyak figur yang memperjuangkan bendera Merah Putih agar berkibar tinggi di kancah olahraga internasional. Sebutlah trio srikandi panahan yang mempersembahkan medali pertama untuk Indonesia di ajang Olimpiade (1998). Ada pula petinju pertama Indonesia yang menyandang gelar juara dunia, Elyas Pical. Atau Susy Susanti, peraih medali emas pertama Indonesia di Olimpiade (1992).

Dengan meneladani figur-figur tersebut, dan atas setiap perjuangan serta dedikasinya untuk negara ini, bukan hal yang mustahil apabila kecintaan masyarakat Indonesia terhadap olahraga, bahwa olahraga juga merupakan salah satu pilar pembentuk karakter bangsa, bisa tumbuh kembali dengan lebih elok.

Hal inilah yang ingin coba dikampanyekan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Lewat ruang publik seperti media sosial, Kemenpora mengajak publik untuk lebih mengenal pahlawan olahraga secara lebih dekat.

"Momen 10 November itu memang kami manfaatkan untuk mengampanyekan kepahlawanan di bidang olahraga. Kami memanfaatkan ruang-ruang publik seperti media sosial untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa ada lho pahlawan kontemporer Indonesia. Mereka adalah pahlawan olahraga. Dan kami buat role model seperti Susy Susanti," kata staf khusus bidang olahraga Kemenpora, M. Khusein Yusuf, dalam perbincangan dengan detiksport, Selasa (10/11/2015).

Pesan ini sudah diramaikan akun twitter resmi @Kemenpora_RI sejak kemarin melalui #PahlawanOlahraga. Mereka juga membuat sejumlah kicauan tentang filosofi di balik pemilihan Susy Susanti sebagai (salah satu) ikon pahlawan negara di bidang olahraga.

"Menurut kami, harus ditanamkan persepsi bahwa menjadi atlet itu asyik lho. Kalau anak-anak muda sekarang mungkin melihat, jadi artis itu keren, seperti Syahrini itu keren. Nah, kalau persepsi itu kita ubah menjadi 'atlet itu keren', menjadi seperti Susy itu keren, bukan hal yang tidak mungkin anak-anak muda kita pasti ingin berolahraga, bahkan ingin menekuni lebih serius salah satu cabang olahraga," tambah Khusein.

"Memang butuh waktu, tapi (persepsi) ini harus kita galakkan. Minimal dengan Hari Pahlawan ini masyarakat bisa mengenal dan menjadikan atlet sebagai role model, sebelum akhirnya mereka memilih menjadi olahragawan. Memang tidak bisa instan menciptakan persepsi publik seperti itu. Tapi kalau terjadi, bukan tidak mungkin pembibitan olahraga dan pembudayaan olahraga akan lebih mudah."

Khusein menyadari, salah satu masalah "klasik" dalam cita-cita "menjadi atlet" adalah faktor ekonomi. Terkait rencana yang lebih sering menjadi wacana, yaitu soal jaminan hari tua seorang olahragawan, Khusein menegaskan bahwa kementerian yang dipimpin oleh Imam Nahrawi ini sudah membuat anggaran riil-nya, dan telah disampaikan ke menteri keuangan.

"Insyaallah tahun 2016, atlet-atlet kita dari seluruh cabang yang berprestasi, menyumbangkan medali di event-event internasional, khususnya Olimpiade, akan dapat dana pensiun seumur hidup," ucap Imam pada 8 Oktober di Batu, Kabupaten Malang. [Baca selengkapnya: Ini Rencana Menpora soal Dana Pensiun dan Kesejahteraan Atlet]

Diakui Khusein, aspek penghargaan ekonomi itu menjadi sebuah hal yang penting untuk mendorong generasi muda agar mau menjadi atlet, bahkan syukur-syukur kelak menjadi pahlawan-pahlawan bangsa di bidang olahraga.

"Kalau jaminan (hari tua) itu bisa diamankan, saya kira orang tua tidak akan ragu untuk mendorong anaknya menjadi atlet. Tapi sejauh ini penghargaan baru untuk Olimpian saja. Ke depan, harapannya juga bisa diterapkan untuk (atlet peraih medali) Asian Games," simpul Khusein.

Baca juga: Catatan Imam Nahrawi: Agar Kepahlawanan Bisa Terus Relevan



(mcy/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads