Mereka Pahlawan dari Gelanggang Olahraga

Mereka Pahlawan dari Gelanggang Olahraga

Femi Diah - Sport
Selasa, 10 Nov 2015 18:06 WIB
Mereka Pahlawan dari Gelanggang Olahraga
(Mark Dadswell/Getty Images)
Jakarta -

Mengharumkan nama negara bisa diemban oleh banyak orang dari berbagai kalangan, termasuk dari gelanggang olahraga. Atas setiap perjuangannya memberikan yang terbaik untuk bangsa, mereka layak pula dipandang sebagai pahlawan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut, KBBI menyebut pahlawan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Dan dalam arena olahraga, tak sedikit mereka yang mempunyai kriteria itu.

Selain atlet yang harus bertarung di atas arena, tak sedikit terdapat orang-orang di belakang panggung yang rela merogoh kocek, memeras keringat, dan menghabiskan waktu untuk menelorkan atlet berprestasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka mempunyai satu kesamaan: asa agar bendera 'Merah Putih' berkibar dan Indonesia Raya berkumandang di ajang internasional. Berharap dunia tahu ada sebuah negara yang terbentuk dari ribuan pulau di kawasan Asia Tenggara ini. Otot dan otak diperas setiap hari.

Mereka layak diberi predikat pahlawan olahraga. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, mencoba membangkitkan semangat kepahlawan dalam bentuk kampanye #PahlawanOlahraga. Menurut Imam, siapapun yang meraih prestasi di dunia olahraga layak diberikan penghormatan sebagai pahlawan.

Detiksport menelusuri jejak sosok-sosok di bidang olahraga nasional yang dinilai mempunyai semangat kepahlawanan itu. Tanpa mengurangi apresiasi serupa untuk mereka yang tidak ada dalam daftar ini, yang jumlahnya tentu sangat banyak, redaksi memilih beberapa nama di bawah ini, dengan perannya masing-masing, sebagai "pahlawan olahraga".

1. Soeratin

Soeratin menjadi tokoh sepakbola Indonesia. Dia pendiri sekaligus ketua PSSI pertama.

PSSI berawal dari pertemuan diam-diam para tokoh sepakbola pribumi. Kemudian pada 19 April 1930, mereka berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Istilah "sepakraga" diganti dengan "sepakbola" dalam Kongres PSSI di Solo pada 1950.

Soeratin menjadi ketua umum organisasi ini 11 kali berturut-turut. Setiap tahun ia terpilih kembali. Sejak tahun 2014, PSSI yang kala itu dipimpin Djohar Arifin Husin mengusulkan Soeratin pantas untuk menjadi pahlawan nasional karena melalui perjuangannya dalam sepak bola.

Soeratin meninggal di usia 60 tahun pada 1 Desember 1959. Dia mungkin tidak tahu, organisasi yang dia bentuk itu sudah lama terseok-seok tanpa prestasi.

2. Susy Susanti

Susy Susanti memang sosok yang fenomenal. Dialah atlet pertama yang memberikan medali emas untuk Indonesia di Olimpiade.

Susy meraih emas di Barcelona setelah mengalahkan pebulutangkis putri Korea Selatan, Bang Soo Hyun. Emas itu menjadi makin istimewa karena untuk pertama kalinya Olimpiade dipertandingkan di Olimpiade.

Emas dari Susy-lah yang kelak menjadi acuan seberapa tinggi Indonesia bisa meraih sebuah kejayaannya sendiri di kancah internasional (Olimpiade).

Bagi Susy, emas itu menjadi raihan puncak setelah prestasi-prestasi apik yang dibukukan dia pada berbagai turnamen tahunan seperti Kejuaraan Dunia, Grand Prix, All England, dan Indonesia Terbuka.

3. Trio Srikandi

Sebelum Susy meraih medali emas di Olimpiade 1992 Barcelona, Indonesia sudah merintis medali dari ajang serupa. Mereka adalah trio pepanah yang membawa pulang medali perak dari Olimpiade 1988 di Seoul, Korea Selatan.

Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani -- dijuluki "Trio Srikandi"--, dengan asuhan pelatih Donald Pandiangan, telah tercatat dalam sejarah olahraga Indonesia sebagai orang-orang yang paling pertama menyumbangkan medali di Olimpiade.

4. Imron Rosadi

Padepokan angkat besi "Gajah Lampung" sudah amat sohor sebagai penghasil lifter berprestasi. Sang pendiri, Imron Rosadi, sudah memulai usaha itu sejak tahun 1963-an.

Tidak sedikit biaya yang harus disiapkan untuk menggelar latihan dan mengikuti kejuaraan. Setidaknya, Imron harus menganggarkan Rp 1,5 miliar setiap tahun.

Dari puluhan bahwa ratusan lifter yang digemblengnya di padepokan yang berada di Pringsewu, Lampung, itu, dua di antaranya yang saat ini berprestasi tinggi adalah Triyatno dan Eko Yuli Irawan, peraih medali di dua Olimpiade (2008, 2012).

5. MF Siregar

Sulitnya mencari pengamat olahraga yang mumpuni setelah Mangombar Ferdinand (MF) Siregar tutup usia. Celoteh itu bukan hanya diungkapkan satu dua orang. Opung, demikian dia akrab disapa memang seperti pencerah untuk olahraga Indonesia.

Tanyalah kepada Susy Susanti siapa sosok yang berperan besar dalam sukses dia meraih emas Olimpaide 1992. Dia akan menjawab Opung salah satunya. Dua tahun sebelum Olimpaide, Opung sudah menyiapkan dan menerapkan skenario untuk membawa pulang emas dari Barcelona itu.

Opung memang mempunyai karier panjang di olahraga. Sejak Indonesia masih dipimpin presiden pertama, Soekarno, Opung sudah menelorkan ide-ide yang diterjemahkan dalam program pembinaan, hingga saat presidennya Susilo Bambang Yudhoyono.

Tak ingin pengalaman itu menguap begitu saja, Opung menerjemahkan dalam biografinya 'Matahari Olahraga Indonesia'. "Makanya saya membuat buku ini. Sebelum saya mati. Mau diteruskan atau tidak terserah," ucap Opung waktu itu.

Dalam buku itu tak hanya mengisahkan roman kelahiran, percintaan dan karier. Namun, Opung menyertakan mimpi-mimpi olahraga Indonesia. Opung meninggal dunia pada 3 Oktober 2010 dalam usia 82 tahun.

Anda punya nama lain sebagai #PahlawanOlahraga kita?

(fem/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads