KOI Diburu Waktu Siapkan Rancangan Detail AG 2018

Asian Games 2018

KOI Diburu Waktu Siapkan Rancangan Detail AG 2018

Femi Diah - Sport
Jumat, 20 Nov 2015 17:22 WIB
KOI Diburu Waktu Siapkan Rancangan Detail AG 2018
detikSport/Rengga Sancaya
Jakarta - Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dipaksa kerja ekstra cepat seiring berjalannya waktu menuju Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Rancangan detail ajang empat tahunan se-Asia itu bahkan belum juga rampung.

Indonesia dipastikan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 menggantikan Vietnam pada 20 September 2014. Sejak diputuskan sampai saat ini belum ada perkembangan berarti dalam semua bidang persiapan.

Bahkan, masterplan alias rancangan detail seluruh kegiatan di Asian Games 2018 belum juga selesai. Padahal, masterplan itu semestinya sudah siap sejak enam bulan penandatanganan Host City Contract (HCC) alias 20 September 2014.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, jadwal pemaparan masterplan AG 2018 di hadapan Olympic Council of Asia (OCA) dan International Olympic Committee (IOC) sudah mepet, yakni rapat regional Dewan Olimpiade Asia (OCA) digelar di Hotel Fairmont, Jakarta, pada 28-30 November nanti. Malah sebelumnya, KOI harus memaparkannya lebih dulu kepada pemerintah.

"Saat ini kami masih merevisi masterplan karena banyak perubahan. Jakarta berubah-ubah melulu jadi harus persiapkan yang baik," kata Ketua KOI, Erick Thohir di Jakarta, Jumat (20/11/2015).

"Siapa yang bermain di Jakarta, siapa yang bermain di Palembang, kami harus membagi. Lalu soal fasilitas atlet berapa yang ada di Jakarta, berapa yang ada di Palembang, belum lagi penghematan bujet," kata pria yang juga Presiden Inter Milan itu.

Selain itu, anggaran juga jadi soal. Dari total kebutuhan Rp 10 triliun--dengan rincian Rp 7,5 triliun untuk persiapan penyelenggaraan dan Rp 2,5 triliun untuk pelatnas--belum tersedia. Pemerintah menganggarkan Rp 500 miliar untuk renovasi Gelora Bung Karno (GBK) Senayan.

"Anggaran pemerintah memang terbatas, tapi kalau pemerintah lepas tangan pun tidak mungkin karena ini hajatan negara, bukan swasta. Tapi kalau swasta ada yang membantu tentu kami alhamdulillah. Yang jelas bujet terbesar memang mesti segera disiapkan, karena ini penting," ujar Erick.

(mcy/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads