Sutan Rambing mengembuskan napasnya yang terakhir pada pukul 03.30 WIB dinihari tadi. Mendiang sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Rumani, Semarang, akibat komplikasi penyakit yang diidapnya kurang lebih empat bulan terakhir.
Β
"Beliau kena stroke sudah lama. Setelah 2-3 bulan baru ketahuan ternyata ada kanker di bawah hatinya, kemudian menjalar ke ginjal, di situlah akhirnya terjadi komplikasi," kata Muhar Sutan, adik almarhum.
"Saat ini sudah banyak kerabat yang datang. Rencananya akan dikuburkan di Sompo Semarang, setelah Sholat jumat," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya dapat kabar tadi pagi dari teman-teman. Saya dengan sekitar pukul 03.00 WIB dini hari meninggalnya. Ini sudah dari sana untuk melayat," kata Chris John, yaang mengaku sudah hampir tiga tahun lebih tidak komunikasi dengan mantan pelatihnya itu.
"Saat mendengar kabar ini memang kondisi beliau sudah sakit. Tapi saya kaget karena banyak komplikasi penyakit yang lain, tidak hanya stroke saja, tapi ada penyakit lainnya," ungkapnya.
"Buat saya beliau adalah pelatih sekaligus mentor saya yang sangat punya karakter dan kreativitas-kreativitas tinggi untuk para atlet agar bisa tampil baik," lanjutanya.
Berkenalan tahun 1995, Chris John kemudian dilatih oleh Sutan Rambing pada tahun berikutnya. Banyak pengalaman yang berkesan di dalam benaknya selama dilatih Sutan.
"Beliau menerangkan bahwa berlatih itu harus disiplin dan keras, kita jangan yang mau santai-santai lalu ingin menjadi juara. Yang namanya menjadi juara memang harus berlatih keras," ucap mantan juara dunia itu.
Chris John menjadi putra Idonesia kedua sepanjang sejarah yang berhasil menjadi juara dunia tinju. Pada 26 September 2003, Chris berhasil mengalahkan Oscar Leon dari Kolombia sehingga berhak atas sabuk juara kelas bulu versi WBA.
"Ya, bisa dibilang prestasi saya sebagiannya adalah karena ilmu beliau. Saya yakin seluruh petinju Indonesia merasa kehilangan beliau," pungkasnya.
(mcy/din)











































