Indonesia mengajukan diri menggantikan Vietnam sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Tapi sampai satu tahun lebih sejak penunjukkan, persiapan masih jauh dari harapan, utamanya Jakarta yang tak bergairah.
Kurang dari 1.000 hari lagi pelaksanaan AG 2018 di Jakarta dan Palembang. Penghitungan mundur pesta olahraga negara-negara se-Asia yang akan digulirkan pada 18 Agustus 2018 itu sudah dihelat Minggu (22/11/2015) lalu di Palembang.
Penghitungan mundur di Palembang itu menjadi pelengkap gairah Palembang menyambut AG 2018. Saat ini mereka mengklaim sudah siap menyambut tamu Asian Games 2018 hingga tahap 75 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soal venue, Palembang yang mempunyai kompleks olahraga Jakabaring diyakini siap menghelat acara tersebut.
Rencananya, Palembang diusulkan akan menjadi tuan rumah 15 cabang olahraga--dari sebelumnya 11 cabang olahraga--serta Jakarta yang dibantu Jawa Barat dan Banten akan menghelat 22 cabang olahraga. Di Asian Games 2018 nanti, Indonesia akan menghelat 37 cabang olahraga dengan delapan di antaranya cabang olahraga nonolimpiade.
Bukannya tanpa catatan, perwakilan Malaysia mengingat Palembang menyediakan akomodasi yang jauh dari ideal saat SEA Games 2011. Malaysia berharap situasi itu tak terulang di Asian Games nanti. Peringatan itu diungkapkan perwakilan Malaysia dalam Regional Meeting OCA dan Olympic Solidarity di Jakarta akhir pekan lalu.
Nah, Jakarta menunjukkan gairah yang berbeda. Sejauh ini, Jakarta justru terlihat ogah-ogahan menyambut agenda tersebut.
Venue pertandingan masih tanda tanya. Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir bahkan menyebut adanya rencana dipindahkanya venue pertandingan.
Sebagai gambaran, velodrome dan akuatik yang terus disebut-sebut menjadi venue yang tak siap belum tersentuh sama sekali. Padahal dua venue itu dinyatakan tak layak untuk menggelar multievent selevel Asian Games. Lapangan tenis dan Istora perlu direnovasi besar-besaran.
Venue nonpertandingan yang merujuk kepada wisma atlet juga masih gelap. Padahal Jakarta diperkirakan akan menjamu 8 ribu sampai 10 ribu atlet.
Saat ini pembangunan wisma atlet belum dimulai setelah sempat tiga kali batal melakukan ground breaking. DPR RI belum juga menyetujui pembangunan wisma rusunawa yang bakal dijadikan wisma atlet lebih dahulu di kawasan Kemayoran.
Baca juga: Wisma Atlet untuk Asian Games 2018 Masih Tanda Tanya
Erick masih optimistis pekerjaan wisma atlet serta pembangunan dan renovasi venue bisa dikebut dan selesai pada waktunya. Masterplan dan rencana induk yang selama ini menjadi alasan birokrat untuk tak segera memulai pekerjaan juga sudah tahap final: menunggu ketok palu OCA.
Erick juga sudah mengajak bicara Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama, di Balai Kota, Jakarta, Kamis (26/11/2015). Dalam pertemuan itu, Erick meminta Jakarta segera berbenah dan menjadikan Asian Games bukan hanya gawe Palembang dan Jakarta tapi seluruh Indonesia.
Baca juga: Erick Thohir Kebut Persiapan Asian Games 2018
"Yang pasti Asian Games terakhir itu tahun 1962. Mungkin hanya lima negara yang bisa menyelenggarakan Asian Games dua kali. Kita negara besar, masa bikin kayak gini gagal. Malu-maluin lah. Kita mempunyai jumlah penduduk yang tak sedikit, ekonomi kita sedang berkembang," kata Erick.
"Negara-negara maju olahraganya juga maju. Olahraganya juga dihargai," kata Presiden Inter Milan itu.
(fem/din)











































