Di setiap turnamen atau ajang multi event, dugaan pelanggaran Fair Play selalu ada, termasuk mungkin di ASEAN Para Games 2015. Maka itu, kontingen Indonesia diminta untuk "teriak" jika memang menemukan kecurangan.
Hal itu dikatakan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, di sela-sela hari pertama perhelatan APG di National Stadium, Singapura, Jumat (4/12/2015). Ini setelah Imam menerima laporan adanya kegelisahan atlet paralimpian Indonesia.
Kontingen 'Merah Putih' mengajukan protes kepada pihak penyelenggara menyusul dipertandingkannya nomor kursi roda 800 meter T53/55 yang pesertanya diikuti 4 atlet yang semuanya berasal dari Thailand. Kondisi ini jelas menguntungkan bagi 'Negeri Gajah Putih' karena otomatis mendapatkan emas, perak, dan perunggu tanpa bersaing dengan negara lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini niscaya akan membuat peluang Indonesia mengejar Thailand di puncak menjadi berat dan menghambat misi mempertahankan gelar juara umum. Meski hal itu bukan yang utama, namun Imam meminta agar seluruh anggota kontingen Indonesia untuk terus mengawal APG agar tetap berjalan fair play.
Bila perlu, praktek-praktek yang tidak fair play tersebut harus diantisipasi dan dibahas dalam rapat pertemuan Chef de Mission (CDM) antar kontingen bersama panitia penyelenggara.
"Setiap pertandingan olahraga harus berlangsung fair play. Layangkan protes sesuai prosedur jika negara lain melakukan kecurangan. Kita harus mengawal agar usaha untuk mempertahankan juara umum tidak terganjal, dan yang terpenting menjaga pertandingan berlangsung fair play," ujar Imam.
"Meski jumlah kontingen Indonesia di APG 2015 bukan yang terbanyak, kita tetap harus berusaha dan mengawal pertandingan agar bisa juara umum. Kita sudah bisa melakukan itu saat ASEAN Para Games di Myanmar," sambungnya.
Seperti diketahui, Indonesia datang dengan kekuatan 190 atlet yang mengikut 11 cabang olahraga dari 15 cabor yang dipertandingkan. Sementara, Thailand sendiri paling banyak memberangkatkan atlet yakni 280 atlet, disusul tuan rumah Singapura (250 atlet), dan Malaysia (240 atlet).
"Kita protes ke panitia karena dalam Athletik Sport Technical Handbook, aturannya setiap nomor pertandingan bisa digelar jika diikuti oleh minimal empat peserta dari dua negara. Ini kok semua atletnya Thailand tetap disahkan. Kita tidak masalah jika ini hanya pertandingan eksibisi dan tidak mempengaruhi perolehan medali," jelas Manajer Atletik Indonesia di APG 2015, Waluyo.
(cas/mrp)











































