Didikan A la Militer yang Membangkitkan Roslinda

ASEAN Para Games

Didikan A la Militer yang Membangkitkan Roslinda

Lucas Aditya - Sport
Sabtu, 05 Des 2015 22:24 WIB
Didikan A la Militer yang Membangkitkan Roslinda
detikSport/Lucas Aditya
Singapura -

Pernah merasa rendah diri, Roslinda Manurung kini menjadi atlet garansi medali untuk kontingen Para Games Indonesia. Dia mengungkapkan peran besar sang ayah atas keberhasilannya saat ini.

Cuaca di kompleks Singapore Sports Hub sedang bersahabat sore itu. Beberapa atlet Indonesia yang sudah bertanding, salah satunya dari cabang catur, sedang berbincang santai di salah satu tamannya.

Di antara para pecatur itu, ada Roslinda, pecatur dengan kursi roda dengan cat biru. Nenek dua cucu itu lantas terlibat pebincangan yang hangat dengan beberapa rekan-rekan dari media.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya senang catur berawal dari kecelakaan. Saya seperti ini berawal karena ditabrak taksi pada 11 November 1974, saat berusia delapan tahun," ujar Roslinda memulai cerita.

Usai kecelakaan itu, Roslinda mengaku sempat mengalami masa keterpurukan. Selama satu windu lamanya dia sempat menutup diri.

Keterpurukan Roslinda itu yang membuat sang ayah, Bahriun Manurung, lantas memutar otak agar anaknya bisa kembali mendapatkan kepercayaan diri. Akhirnya dipilihlah papan catur dan juga meja ping-pong oleh prajurit Kodam II Bukit Barisan itu sebagai sarana untuk menumbuhkan kepercayaan diri Roslinda.

"Setelah berhasil mengalahkan bapak, baru dia panggil masuk tetangga-tetangga main catur. Setelah itu dibeli meja untuk tenis meja. Dia memang tidak pintar bermain, tapi terus menyemangati saya, 'kamu bisa, ayo'," kata wanita 49 tahun itu.

"Jadi, meja itu ditaruh di dekat dinding, sehingga saya bisa memegang dinding biar bisa berdiri. Jangan pernah katakan kamu tidak bisa, kamu bisa," imbuhnya.

Setelah dinilai mampu tampil oke, Roslinda didaftarkan ke lomba 17 Agustus-an di kawasan tempat tinggalnya, Kecamatan Medan Denai, Medan, Sumatera Utara. Dia menjadi juara lomba catur sekaligus tenis meja saat itu.

"Saat itu hadiahnya cuma handuk dan snack kecil, namanya juga kelas kecamatan. Setelah itu kepercayaan diri saya terus tumbuh," ucap atlet yang sudah ikut ajang ASEAN Para Games di Nakhon Ratchasima, Thailand, tahun 2008 itu.

"Bapak saya menangis angkat saya. Saya juara tenis meja dan catur. Ini baru anak saya, kata bapak waktu itu," kenangnya.

Dari Tenis Meja ke Catur di Para Games

Roslinda boleh dibilang sebagai multi talenta. Nenek yang sering mengumbar tawa ini awalnya turun di cabang tenis meja. Baru saat ASEAN Para Games di Myammar dua tahun lalu dia pindah halauan ke catur.

"Dia itu atlet serba bisa. Tenis meja bisa. Catur bisa. Kali ini berapa emas, Bu?" tanya salah satu rekannya menyela perbincangan dengan para pewarta.

Roslinda pun menjawabnya dengan satu senyuman. Dia lalu menguraikan kiprahnya kepada pewarta selama mengikuti ajang multi event sejak tahun 2004 di Paparnas Palembang.

"Selama dikirim, saya terus mendapat emas. Di Paparnas, di Para Games, saat di tenis meja saya mendulang dua emas di Thailand, saat Indonesia tuan rumah saya juga mendulang emas masih di tenis meja. Di Myanmar pindah ke catur dapat tiga emas. Terakhir saya tinggalkan tenis meja di Paparnas Riau tahun 2012," ungkap Roslinda meski tak bisa merinci berapa total medali emas yang sudah bisa disabetnya.

"Saya gantung raket pindah ke catur, selama Para Games belum pernah gagal dapat emas. Ini sudah ikut keempat kalinya. Di Myanmar sudah pindah ke catur. Di sana saya mendapatkan tiga emas dari catur," imbuhnya.

Roslinda juga bercerita mengenai pertemuan dengan suaminya. Seorang pevoli yang sempat mampir ke warung kelontong sebagai penyangga hidupnya sebelum menjadi atlet.

"Suami saya ganteng lho. Normal. Dia dari Pangkalan Brandan, Aceh. Saat itu timnya bermain di Medan. Kebetulan lapangannya dekat dengan warung saya. Saya jualan limun. Di situlah kami bertemu. Saya sih pertama jadi suporter doang. Tahun 1988 kami menikah," ungkapnya.

Ada satu hal yang disayangkan oleh Roslinda dengan satu rentetan kesuksesannya saat ini. Dia menjadi juara di banyak ajang muticabang saat sang ayah sudah meninggal.

"Saat saya juara bapak sudah meninggal. Di situlah saya menangis. Saat juara nasional dia sudah tidak ada. Tahun 2002 bapak meninggal. Cuma dua tahun sebelum saya juara nasional," kata Roslinda.

"Dulu dia sering ribut dengan mama karena catur dianggap tak berguna. Dia bilang besok hidup ini anak dari bermain catur, jangan pernah kamu larang dia main catur. Kini ibu saya menangis kalau ingat itu."

"Semua medali saya masih tersimpan rapi, pernah ada orang meminta tapi tidak saya kasih. Itu semua akan saya jadikan penyemangat untuk cucu saya," tutupnya.

(cas/mfi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads