Manajer tim atletik, Waluyo, mengungkapkan bahwa hal itu berubah sejak ASEAN Para Games di Solo pada tahun 2011.
"Setelah event itu, National Paralympic Comittee (NPC) tak lagi harus di bawah KONI. Sehingga kami bisa memberi usulan langsung ke Kementerian Pemuda dan Olahraga," kata Waluyo saat berbincang dengan pewarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk sekarang ini, kontingen Indonesia berjumlah 190 orang. Dengan kontingen yang besar, Indonesia berhasil membuktikan diri dengan meraih gelar juara umum di Myanmar dua tahun lalu.
Hal yang sama juga diucapkan oleh manajer tim para tenis meja, Rima Ferdianto. Dia menyoroti soal pengadaan alat.
"Dulu itu, kalau kami mengajukan pengadaan peralatan, dari 100 persen bisa terpenuhi 60-70 persen saja usah bagus. Sekarang bisa terpenuhi semuanya, bahkan berlebih bisa 200 persen. Sebagai contoh, bet. Kami mengajukan yang seharga Rp 1,5 juta, tapi malah diberi yang Rp 4,5 juta. Titik balik ini ada di ASEAN Para Games Myanmar," kata Rima.
Sementara untuk pelatnas yang berjalan selama satu tahun, atlet lempar lembing, Yohanis Bili, juga mengaku mendapatkan uang saku lebih besar.
"Selama setahun, kami mendapatkan uang saku Rp 5 juta setiap bulan. Jadi, cukup lumayan," ucap Yohanis.
Dalam pernyataannya kemarin, Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, memang menegaskan bahwa pemerintah sudah tak lagi membedakan atlet paralympic dengan event lain.
"Tak boleh lagi ada diskriminasi. Untuk bonus saya berjanji akan seperti atlet event lainnya, untuk medali emas Rp 200 juta," ucapnya kepada pewarta.
(cas/mfi)











































