Hal itu seperti disampaikan oleh pelatih atletik Indonesia, Slamet Widodo. Dia menilai bahwa masih ada banyak potensi yang dimiliki oleh atlet muda Indonesia.
"Di nomor lari, Indonesia masih unggul, yang perlu ditingkatkan di nomor-nomor putri. Ternyata potensinya itu ada. Dari ajang Peparpenas (Pekan Paralimpik Pelajar Nasional) kami sudah mempunyai database untuk atlet putri yang berpotensi. Termasuk atlet muda yang berpotensi," kata Slamet saat ditemui di Stadion Nasional, Singapura, Rabu (9/12/2015) pagi WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Potensi atlet muda itu contohnya Nanda Mei Sholihah (16 tahun). Dia sudah dua kali ikut ASEAN Paragames. Di sini dapat tiga emas, sebelumnya perak dan perunggu. Dia masih muda dan mempunyai potensi. Atlet seperti itu di Indonesia banyak," imbuhnya.
Pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga sudah memberikan jawaban atas usulan itu. Lewat Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Djoko Pekik Irianto, tanggapan itu disampaikan.
"Nanti akan kami tinjau tinjau dulu. Karena pratama di paralimpik masih belum digarap dengan bagus dalam konteks bagimana pelatihannya, di mana tempat latihannya, sehingga kita wacanakan bahwa Pratama akan disejalankan dengan pembinaan PPLP. Pembinaan Pratama akan kita arahkan ke sana," kata Djoko.
"Ada lagi ajang Peparpenas, kami mempunyai database pemain bagus diari sana. Tap, masalahnya orang tua terkadang masih enggan melepaskan anaknya ke pemusatan latihan. Tapi akan coba kami garap, pelatih-pelatih yang akan datangkan ke daerah-daerah sumber atlet," imbuhnya.
Soal kiprah Indonesia di ajang ASEAN Para Games ini, Djoko memberikan apresiasi untuk perjuaangan para atlet selama berlaga di Singapura.
"Target memang untuk mempertahankan juara umum, semua judah berjuang maksimal. Hasilnya memang sudah diketahui kita berada di peringkat dua di bawah Thailand. Perjuangan para atlet harus diapresiasi," ucap Djoko.
"Kami akan mengevaluasi hal yang bersifat teknis. Kami tak mengetahui secara persis kualifikasi yang harus dipenuhi salah satunya di CP (sepakbola). Hal itu harus kita sikapi secara keseluruhan."
"Regulasi peraturan secara teknis juga perlu. Di atletik kita didiskualifikasi karena atlet menginjak garis. Itu mestinya suatu hal yang harus diketahui sejak awal," tambahnya.
(cas/rin)











































