Maskot Dikritik, Tanda Manajemen Asian Games 2018 Tidak Siap

Maskot Dikritik, Tanda Manajemen Asian Games 2018 Tidak Siap

Mohammad Resha Pratama - Sport
Rabu, 30 Des 2015 11:57 WIB
Maskot Dikritik, Tanda Manajemen Asian Games 2018 Tidak Siap
Detiksport/Rachman Haryanto
Jakarta -

Maskot Asian Games 2018 'Drawa' mendapatkan sorotan tajam dari berbagai pihak. Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah dan KOI tidak siap secara manajemen untuk menggelar event besar ini.

Drawa diluncurkan pada Minggu (27/12/2015), ditampilkan sebagai burung khas Papua, cendrawasih. Agar lebih Indonesia, Drawa mengenakan kostum pencak silat.

Tapi kemunculan maskot itu mendapatkan kritik dari berbagai pihak. Termasuk komunitas seni dan masyarakat awam. -Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pembuatnya -, desain itu dinilai terlalu "kuno". Dari sejumlah pembaca detikcom sendiri, diharapkan adanya perubahan atau desain ulang Drawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan ada yang menganggap Drawa bukanlah burung Cendrawasih melainkan lebih mirip dengan ayam.

Boleh dibilang polemik maskot ini memperlihatkan bahwa Indonesia tidak serius menjadi tuan rumah Asian Games mendatang. Apalagi sebelumnya sudah muncul berbagai masalah seperti pembangunan wisma atlet, dana, dan lainnya.

Namun, menurut Dosen sekaligus Kepala UPT Olahraga Institut Teknologi Bandung (ITB), Tommy Apriantono, Indonesia bukannya tidak serius melainkan hanya tidak siap secara manajemen.

"Jika dibilang tidak serius, tidak bisa karena Indonesia sudah menunjukkan keseriusan menjadi tuan rumah ketika mereka maju menggantikan Vietnam (tuan rumah awal -red) yang mundur. Tapi yang saya khawatirkan adalah soal manajemennya," ujar Tommy dalam perbincangan dengan detikSport, Rabu (30/12/2015) siang WIB.

"Kita itu serius menjadi tuan rumah, namun manajemen kita tidak siap untuk mengelola dan menghadapi penyelenggaraan Asian Games itu," sambungnya.

Tommy pun menyarankan agar pemilihan maskot dilakukan dengan sayembara agar lebih terbuka dan mengikuti keinginan masyarakat. Pasalnya, maskot itu bakal jadi lambang negara tuan rumah plus juga menghasilkan nilai keekonomian.

"Begitu ditunjuk jadi tuan rumah, harusnya dibuka sayembara maskot. Maskot itu melambangkan negara. Selain itu harus dilihat maskot itu laku atau tidak nantinya kalau dijual."

Terakhir, Tommy pun menyebut seharusnya Pemerintah dan KOI bertanggung jawab atas munculnya maskot yang jadi polemik itu. Maka dari itu, disarankan agar dibentuk sebuah Badan Independen yang bertugas untuk mengurus segala hal yang menyangkut Asian Games.

Sementara itu, pemerintah melalui Deputi V Bidang Harmonisasi Kemenpora, Gatot S Dewo Broto, tidak menampik jika pembuatan maskot itu terkesan terburu-buru. Bahkan kehadiran maskot itu terlambat dari jadwal yang sudah dibuat.

"Semestinya maskot sudah ada sejak bertepatan dengan Haornas tahun ini, bulan September. Tapi, karena banyak kegiatan yang harus diselesaikan, maskot mundur. Kami akan sampaikan kepada OCA kalau maskot perlu didesain ulang saat OCA berkunjung bulan Januari nanti. Tidak masalah," kata dia.

"Harusnya yang bertanggung itu SC (standing committe), kemenpora dan KOI. Harusnya ada satu badan yang ditugasi khusus untuk Asian Games, karena Menpora juga bebannya berat harus siapin atletnya, kayak satlak prima," papar Tommy.

"Ada satu badan yang bisa mengelola dana dari pemerintah, tapi juga dari dana swasta. Full profesional namun di bawah supervisi Pemerintah dan KOI, bukan membebani pajak masyarakat. Bagaimana mencari dana untuk perhelatan Asian Games. Zaman sekarang, olahraga itu kan bisa dijual," demikian Tommy.

(mrp/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads