Drawa menjadi maskot Asian Games yang akan digelar dua tahun lagi. Maskot merupkan 'burung surga' asal Papua, cenderawasih, yang diberi pakaian pencak silat. Maskot itu diluncurkan akhir pekan lalu bersamaan dengan logo Asian Games.
Dalam prosesnya, Menpora Imam Nahrawi menyebut desain maskot perlu perbaikan. Waktu yang yang ada cukup pendek, hingga akhir Januari bertepatan dengan rapat koordinasi OCA dan KOI serta pemerintah Indonesia di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya yakin sebelum desain ini diketok, ada beberapa usulan. Nah, siapa decision maker-nya kok sampai itu yang dipilih? Saya kira petinggi dan pemegang keputusan perlu edukasi. Ini bisa diterima kalau dimunculkan 20 tahun lalu," kata Adit dalam perbincangan dengan detikSport, Rabu (30/12/2015).
"Maskot ini perwakilan status quo, tidak mewakili kekinian. Kalau dilihat dari sisi marketing, maskot ini akan sangat mahal. Semua warna--yang lebih dari lima--dimunculkan, motif batik yang kian menambah cost. Sebagai duta event, jelas tidak memanjakan mata sehingga tak membuat orang ingin membelinya."
"Saya sendiri berharap maskot ini bisa jadi koleksi publik, masyarakat mau membelinya, bisa memiliki dan tetap bangga. sekali lagi tak perlu memaksakan banyak elemen."
"Pokoknya decision maker-nya harus mau berbenah. Jangan lupa mencari referensi, kan gampang sekarang. Tinggal googling. Di samping maskot, soal kostum kontingen Indonesia juga harus dipikirkan sejak dini, jangan memalukan ya," kata dia.
Kalau pemerintah lamban merespons soal maskot itu, Adit tak segan untuk membuat kompetisi independen. Hasilnya akan disodorkan kepada pemerintah.
"Kalau sudah gemas biasanya saya bikin kompetisi saja. Itu pernah saya bikin saat ada logo kemerdekaan, maskot Asia Afrika dan beberapa lainnya," jelas dia.
(fem/din)











































