Hal itu diungkapkan Menpora Imam Nahrawi, di Kantor Kemenpora, Senayan, Selasa (12/1/2016). Imam mengatakan Satlak Prima saat ini masih gemuk. Untuk itu, ia berencana memangkasnya hingga maksimal orang-orang yang di dalamnya terdiri dari 50 orang.
"Sekarang ini kan masih gemuk, nah saya inginnya di Satlak Prima tidak terlalu banyak. Selain itu, tidak ada lagi di kepengurusan Prima yang rangkap jabatan, ada di Kemenpora, KONI, KOI, lalu di Satlak Prima. Ini akan kami benahi," kata Imam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imam menargetkan restrukturisasi akan dilakukan paling lambat sebelum Olimpiade. "Idealnya sebelum Olimpiade, semua (restrukturisasi) sudah beres," ujarnya.
Tak hanya soal restrukturisasi, Imam juga sudah menugaskan kepada Kepala Satlak Prima Achmad Sutjipto untuk melakukan intervensi keras jika ada Pengurus Besar (PB) atau Pengurus Pusat (PP) yang bandel.
Bandel yang dimaksud adalah memilih atlet sesuka PB tanpa melalui proses seleksi atlet yang tepat.
"Saya bilang ke Pak Tjip (Achmad Sutjipto) untuk melakukan intervensi keras kepada PB-PB yang skuat timnya ada di pelatnas. Jadi tidak boleh ada toleransi kepada personel atlet pelatnas atas hanya kemauan PB, tetapi harus betul-betul harapan Prima. Karena Prima yang akan bertanggunng jawab terhadap prestasi, bukan PB," kata Imam.
Ia mencontohkan, jika ada atlet yang memenuhi standar kualifikasi Olimpiade. Tetapi karena faktor like and dislike akhirnya tidak didaftarkan PB ke Prima. "Hal βhal seperti ini yang saya tidak inginkan, harusnya ada sinkronisasi atas hal itu," tambah dia.
"Memang tanpa melibatkan PB/PP, Satlak Prima tidak bisa berjalan. Tetapi kalau ada kasus misalnya atlet A masuk tapi tidak diterima karena faktor like and dislike, disinilah Prima harus intervensi. Makanya apa yang mereka (Satlak Prima) lakukan seperti melakukan tes, screening atlet, saya kira itu solusi untuk mengurangi like and dislike itu," tandasnya.
(mcy/din)











































