Rancangan maskot Asian Games 2018 sempat menjadi kontroversi di kalangan masyarakat. Menurut Wakil Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Muddai Madang, itu menandangkan sosialisasi event mengena.
Demikian dikatakan Muddai menanggapi ramainya perbincangan orang mengenai rancangan Drawa ketika pertama kali diluncurkan pada 27 Desember 2015.
"Tugas kami adalah sosialisasi dan promosi ke masyarakat. Karena logo dan maskot sudah dikerjakan sebelum kepengurusan kami, tugas kami adalah meluncurkannya. Rupanya peluncuran itu direspons oleh masyarakat, sampai sempat jadi trending topik. Itu artinya sosialisasi ini sampai ke masyarakat. Tapi kalau ada pengisi program ada yang perlu diperbaiki, silakan saja. Jelek bagus logo dan maskot itu relatif," ujar dia kepada pewarta di Golf Driving, Senayan, Jakarta, Minggu (17/1/2016) kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika publik ramai-ramai mengkritik desain Drawa, Kemenpora sendiri langsung merespons dengan membuka kesempatan merancang ulang. Sempat berencana membuat sayembara terbuka, belakangan mereka memutuskan menggandeng Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk merevisi Drawa.
Sejumlah komunitas juga berinisiatif membuat sayembara independen untuk menunjukkan bahwa banyak penggiat desain visual yang bisa menghasilkan karya-karya bagus β apalagi jika ini adalah demi kepentingan negara yang akan menjadi tuan rumah event internasional sepenting Asian Games. [Baca juga: Ayo, Rancang Sendiri Drawa-mu]
(mcy/a2s)











































