Mencari Penerus Chris John dan Daud Yordan

Mencari Penerus Chris John dan Daud Yordan

Lucas Aditya - Sport
Sabtu, 06 Feb 2016 16:22 WIB
Mencari Penerus Chris John dan Daud Yordan
detiksport/Rachman Haryanto
Jakarta - Setelah Chris John pensiun Indonesia masih punya Daud Yordan yang berstatus juara dunia tinju. Tapi di belakang Daud Yordan renegenasi tinju Indonesia jadi tanda tanya besar.

Daud berhasil mempertahankan gelar juara gelar juara kelas ringan versi WBO Asia Pasific dan Afrika. Dia memenangi pertarungan melawan Yoshitaka Kato yang berlangsung di Balai Sarbini, Jumat (5/2) malam WIB.

Di tengah euforia kemenangan, ada satu kekhawatiran menghantui tinju profesional Indonesia. Setelah Daud Yordan, tak akan ada lagi petinju tanah air yang bisa berkiprah di kancah internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eks juara kelas bulu versi WBA Chris John yang mengungkapkan hal itu. Dia juga mempunyai ide dan rencana yang hendak diwujudkan untuk mengatasi masalah regenerasi tinju di Indonesia.

"Iya (setelah Daud Yordan tak ada petinju lagi). Mungkin ada bakat-bakat, tapi ya eventnya jarang," kata Chris John saat berbincang dengan pewarta.

"Untuk jadi pelatih belum, saya mencoba untuk membuat eventnya dulu. Seperti menjadi promotor. Petinju kita butuh eventnya dulu. Dengan banyaknya event maka petinju kita otomatis akan maju."

"Salah satunya penghambat regenerasi tinju kurang event itu. Kalau ajangnya kurang orang akan berpikir ngapain menjadi petinju. Pembinaan di setiap daerah dan pelatih-pelatih berkualitas harus ada," tambah eks petinju yang kini menggeluti usaha bidang asuransi dan menjadi seorang motivator itu.

Satu permasalahan klasik menjadi benturan untuk Chris dalam usaha untuk kembali menggairahkan tinju profesional di Indonesia.

"Ini masih mencoba melihat peluangnya saja dulu. Mudah-mudahan pemerhati tinju bisa diajak bekerja sama. Mungkin bisa kontak dari pemerintahan dengan menunjuk BUMN atau instansi untuk mendukung tinju di Indonesia," ujar Chris.

Sekretaris Jenderal Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI) Pusat, Adrian Ingratubun, juga sepakat bahwa kurangnya ajang menjadi penyebab regenerasi berhenti.

"Permasalahannya adalah siapa yang mau menjadi promotor. Kita dengan negara-negara tetangga seperti Filipina dan Thailand saja sudah. Kalau promotor tidak ada bagaimana pertandingan bisa jalan," kata Adrian di sela-sela pertandingan Daud melawan Kato.

"Potensi tinju di daerah itu banyak sekali. Salah satunya Papua. Di sana itu gudang petinju. Selain itu juga dari NTT."

"Faktor utamanya bagaimana peran negara. Amatir harus didorong oleh pemerintah, karena amatir bisa menggunakan APBN. Tapi, kalau mau ke profesional masalahnya ya dana," imbuhnya.

(cas/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads