Bridge Belum Masuk Asian Games 2018, GABSI Tagih Konsistensi KOI dan Prima

Bridge Belum Masuk Asian Games 2018, GABSI Tagih Konsistensi KOI dan Prima

Mercy Raya - Sport
Senin, 15 Feb 2016 14:57 WIB
Bridge Belum Masuk Asian Games 2018, GABSI Tagih Konsistensi KOI dan Prima
Jakarta -

Merasa pernah dijamin bahwa bridge akan dimasukkan ke Asian Games 2018, Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI) kini menagih konsisten Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Satlak Prima.

GABSI merasa kecewa karena olahraga yang mereka naungi, bridge, harus kembali bersaing dengan jetski, paralayang, panjat tebing, dan sepatu roda, untuk mengisi satu jatah cabang olahraga pilihan tuan rumah pada Asian Games 2018.

Cabor pilihan tersebut kini masih dipertimbangkan (lagi) oleh KOI dan Satlak Prima setelah Dewan Olimpiade Asia (OCA) menolak usulan Indonesia untuk menambah jumlah cabang olahraga. OCA mempersilakan jika tuan rumah mau mengganti cabang usulan dan non-Olimpiade yang dinilai berpotensi raup medali, asalkan tetap pada koridor 28 cabor Olimpiade, 8 cabang non- Olimpiade, dan satu cabang usulan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"KOI dan Satlak Prima terlihat jelas tidak konsisten karena sudah sejak tahun lalu bridge dinyatakan resmi dipertandingkan di AG 2018, bahkan venue-nya sudah ditetapkan di Palembang. Keputusan mereka saat ini sama saja menganulir keputusan sebelumnya. Tentu kami kecewa dengan sikap mereka apalagi keputusannya diambil sepihak," ujar Ketua Umum PB GABSI, Ekawahyu Kasih, di Jakarta, Senin (15/2/2016).

Menurut Eka, perubahan tersebut tidak pernah dikomunikasikan dengan pihaknya. Padahal, keputusan mengenai bridge akan dipertandingkan di AG 2018 sudah tersebar luas ke sejumlah organisasi bridge dunia seperti WBF (World Bridge Federation), ABF (Australian Bridge Federation), dan EBU (English Bridge Union) , yang telah merilis bahwa bridge akan berlaga di AG 2018 melalui website resminya masing-masing.

"Perubahan ini muncul sejak KOI dan Satlak Prima berganti kepengurusan baru. Saya tidak tahu ada motif apa di balik semua ini dan kenapa harus bridge. Yang pasti, keputusan mereka melukai hati seluruh insan bridge Indonesia," tegasnya.

PB GABSI juga telah menyiapkan serangkaian program guna merealisasikan target 5 medali emas yang dijanjikan. Hal itu ditunjukkan dengan melaksanakan Seleksi Nasional (Seleknas) Junior, Girls, Youngster dan dilanjutkan dengan Seleknas Men, Ladies, dan Mixed Team.

"Sesudah itu akan dilaksanakan Pelatnas dengan sistem promosi-degradasi setiap 4 bulan sekali sesuai dengan arahan Satlak Prima. Pelatnas akan dilatih pelatih asing kaliber dunia yaitu Krisztoff Marsten dari Polandia yang telah berhasil menciptakan juara-juara dunia," katanya.

Selain itu, PB GABSI juga telah membuat laporan kepada KONI Pusat terkait kesiapan mereka meraih 5 medali emas. Ekawahyu mengatakan, berdasarkan laporan itu KONI Pusat telah membuat kajian dan sudah disampaikan kepada Ketua Umum KOI, Kasatlak Prima, dan Menpora.

"Dengan persiapan maksimal selama dua tahun lebih ke depan kami yakin bisa mencapai target medali emas itu asal jangan direcoki dengan hal-hal seperti ini," pungkasnya.



(mcy/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads