Direktur Utama Pusat Pengelola Kompleks GBK (PPK GBK), Winarto, sulit memenuhi permintaan tersebut. Pasalnya, hal itu akan memengaruhi timeline pengerjaan renovasi GBK yang semakin molor.
"Semua cabor pada prinsipnya harus pindah terutama kantor cabornya. Hanya ada satu dua cabor pelatnas, seperti angkat besi, dan kami masih koordinasi intensif untuk cari jalan keluar," kata Winarto di kawasan Senayan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi, bukan berarti PPK GBK akan menanggung kebutuhan biaya cabor saat di luar sana. Tidak ada karena GBK ini tidak dapat satu sen pun uang. Kami harus cari duit sendiri. Makanya kalau Asian Games tidak dipikirin mana begitu kuat kami suruh me-maintenance semua," kata dia.
Sebagai gambaran, ada sekitar 15 venue yang akan direnovasi oleh kontraktor GBK. Itu belum termasuk kawasan yang akan ditaata ulang kembali agar pemanfaatannya bisa lebih baik dan hidup.
Untuk Stadion Utama Gelora Bung Karno, tempat duduk akan dibuat single seater. Selain itu, tata lampu, tribune, rumput, hingga sistem tiket juga akan diperbaiki. Meski SUGBK merupakan bangunan bersejarah, fasilitasnya akan dibuat semodern mungkin.
Dijelaskan Winarto, saat ini pihaknya sudah menyiapkan opsi-opsi untuk cabor-cabor kendati dia menyadari opsi itu bergantung pada kasus masing-masing cabor.
"Sebab, ada cabor yang memang benar-benar tidak ada tempat lain, tapi ada juga (cabor) yang sekadar ogah. Itu harus dibedakan. Yang jelas kami saat ini masih menggunakan komunikasi persuasif. Artinya, kalau yang ogah pindah kami bantu deh, misalnya dengan mengirimkan truk barang atau apa, karena kalau tidak terlambat semua berpengaruh. Seperti efek domino," Winarto memaparkan.
Selain berkaitan dengan persiapan Olimpiade, ada beberapa cabor yang melakukan renovasi, baik kecil maupun besar, pada kantor yang disewanya. Salah satunya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
"Kami beriktikad untuk cari jalan keluar. Seperti lapangan C kan sebelumnya dikelola oleh mereka tetapi sekarang sudah diserahkan ke GBK. Saat rapat pun mereka juga datang. Ya semua itu kami harapkan bisa dikomunikasikan. Tapi, kalau hukum satu-satunya cara ya apa boleh buatlah. Tetapi, kita semua tahu di mana pun berperkara itu paling mahal dari segi biaya dan waktu. GBK pernah meski menang setelah 10 tahun. Itu menang juga gila, sudah PK (Peninjauan Kembali) di PK lagi. Itu hukum. Maka dari itu yang kami tempuh adalah dialog. Cari solusi karena kami sadar berperkara itu tidak baik," jelas Winarto.
Winarto juga tak ingin hanya karena sikap ngotot cabor malah membuat kepercayaan Olympic Council of Asia (OCA) luntur lantaran persiapan Indonesia yang terus molor. Terlebih lagi, 10 Mei mendatang akan digelar kembali rapat Koordinasi Komite (KorKom) Asian Games 2018.
"KorKom kemarin di Fairmont, Jakarta, OCA sudah melihat Indonesia semakin mampu dan percaya diri. Nah, mungkin Mei nanti mereka akan semakin percaya lagi dengan Indonesia karena persiapannya sudah berjalan. Jadi sebisa mungkin kami akan melakukan pendekatan yang soft kepada mereka (cabor) untuk menuntaskan persoalan-persoalan seperti tadi," pungkasnya.
(mcy/mfi)










































