Untuk kesekian kalinya Olympic Council of Asian (OCA) mengingatkan Indonesia terkait terbatasnya waktu untuk mempersiapkan Asian Games 2018.
Selasa (12/4) pagi, Vice President OCA, Wei Jizhong, melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak Satgas Infrastruktur Asian Games, di antaranya Direktur PPK GBK Winarto, Kemenpora, juga KOI. Hadir dalam acara tersebut juga perwakilan dari DKI, Sylviana Murni, serta Senior Adviser untuk Asian Games 2018, Rita Subowo.
Digelar di Kantor Kementerian PU dan PERA, pertemuan itu dalam rangka melihat sejauh mana persiapan Indonesia terutama pembangunan infrastruktur sudah dilakukan. Hasilnya Ketua Satgas infrastruktur, Imam Santoso Ernawi, mengklaim jika respon yang diberikan OCA cukup positif. Artinya, semua rencana pembangunan masih sesuai jadwal dan akan selesai dengan waktu yang sudah ditetapkan. Renovasi Gelora Bung Karno bakal selesai Juli 2017, sementara wisma atlet di Kemayoran kelar Oktober 2017.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imam juga menjelaskan waktu yang tersisa mesti dimanfaatkan sebaik mungkin. Pasalnya, tuan rumah juga dikejar-kejar waktu karena venue akan digunakan untuk Asian Youth Games, pada Oktober 2017.
OCA sendiri sempat memberikan catatan usai rapat Koordinasi Komite pada 30-31 Januari kemarin di Hotel Fairmont, Senayan. Mereka mengkhawatirkan tenggat waktu persiapan karena waktunya mulai tak banyak lagi, terutama pada renovasi komplek olahraga di kawasan GBK.
Sementara dua masalah lainnya yang menjadi catatan OCA adalah soal kantung parkir dan lahan kosong yang tidak banyak untuk bangun baru. Menurut Jizhong, di beberapa venue tidak ada tempat parkir yang memadai. Padahal, lahan parkir sangat diperlukan jika sewaktu-waktu ada pertandingan yang dilakukan bersamaan.
"Sebelumnya kami melihat Kementerian PU-Pera memegang banyak tanggung jawab dalam hal insfrastruktur. Tapi sekarang, kami mendapatkan penjelasan mengenai pembagian tugas yang lebih jelas mengenai siapa yang mengerjakan apa. Kementerian PU-Pera mengerjakan kompleks GBK dan kompleks atlet. DKI Jakarta mengerjakan sejumlah venue, termasuk equestrian dan Palembang," kata Jizhong, dalam kesempatan terpisah.
βTapi walau begitu tetap ada dua tantangan yang dihadapi dalam persiapan Asian games kali ini. Pertama, Ialah soal waktu. Indonesia tidak punya banyak waktu untuk mengerjakan beberapa proses persiapan, bahkan bisa dibilang hanya dua tahun. Jadi jika tidak dipersiapkan dengan baik, maka waktu akan jadi tantangan terberat,"
"Tantangan kedua ialah mengenai pendanaan, Kalian telah menganggarkan sejumlah dana untuk ajang yang dua tahun ke depan baru diselenggarakan. Dari segi infrastuktur, pendanaan tahun ini dengan dua tahun mendatang pastilah berbeda. Jadi semakin lama dikerjakan, biayanya akan semakin melambung tinggi," Jizhong menjelaskan.
Kendati begitu, Jizhong mengatakan masih optimistis Indonesia bisa memenuhi target yang sudah diberikan. PIhaknya juga siap untuk bekerja bersama-sama untuk membangun warisan untuk masa depan.
"Limited optimistic. Saya tanyakan kepada Kementerian PU dan PERA, apa yang ingin dicapai dalam pembangungan sejumlah infrsatruktur ini. Apakah hanya unttuk menyelenggarakan Asian Games saja, atau membangun warisan di masa depan. Ketika dijawab ini untuk masa depan, ya kita semua akan bekerja bersama-sama dengan orientasi tersebut,β pungkas Jizhong.
(mcy/din)











































