detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Sabtu, 23 Apr 2016 07:39 WIB

Mengenal Running Form Analysis Agar Lari Jadi Lebih Nyaman

Lucas Aditya - detikSport
Foto: detiksport/Lucas Aditya Foto: detiksport/Lucas Aditya
Hong Kong - Meski mudah, olahraga lari menyimpan potensi cedera jangka panjang sebagai dampak kebiasaan sehari-hari. Ini bisa dicegah dengan menjalani analisis spesifik.

Kebiasaan yang sudah dilakukan seseorang dalam jangka waktu lama bisa membentuk salah satu sisi tubuh menjadi lebih dominan. Kondisi tubuh itu berdampak pada posisi badan saat melakukan aktivitas olahraga.

Andai ada satu sisi yang terlalu dominan, maka pergerakan tubuh pun juga akan kurang maksimal. Untuk melihatnya, perlu dilakukan tes agar bisa segera melatih sisi tubuh yang mempunyai kekuatan lebih lemah. Salah satu tes itu bernama running form analysis.

Ada posisi sembilan bagian tubuh yang dianalisis dalam running form analiysis. Yang pertama adalah foot strike atau tapakan kaki. Teknik menapakkan kaki mesti efisien, jangan melepaskan langkah terlalu keras karena bisa mengakibatkan cedera.

Posisi pergelangan kaki menjadi bagian kedua yang dinilai. Ankle menjadi salah satu sendi utama lari. Kebiasaan yang sudah berlangsung lama saat berjalan atau berlari akan menentukan posisi tubuh secara garis besar. Posisi pergelangan kaki ini biasanya akan berpengaruh pada otot bagian tubuh lainnya.



Kaki menjadi bagian kedua yang harus diamati, bersama dengan pinggul yang menjadi bagian dari otot lari utama.

Torso atau postur tubuh saat berlari juga dianalisis. Andai ada posisi yang salah, akan membuat pinggang menjadi tak nyaman saat melakukan akivitas lari jika berlangsung dalam waktu yang lama.

Jangan meremehkan ayunan lengan saat melakukan aktivitas lari. Soal hal itu, eks sprinter andalan Indonesia, Suryo Agung Wibowo, mempunyai penjelasan. Dia mengungkapkannya dalam acara Kumpul Sehat yang diprakarsai Puma di salah satu pusat perbelanjaan di pekan ini.

"Biomekanik tubuh itu seperti itu. Bisa dicoba dengan berlari dengan tangan diikat. Pasti hasilnya akan tidak maksimal," ungkap pria yang memegang catatan waktu terbaik 10,17 detik di nomor 100 meter putra di ajang SEA Games 2015.

Ayunan lengan, posisi bahu, dan kepalan tangan yang proporsional akan membuat biomekanik tubuh yang optimal hingga lari bisa lebih efisien.

Satu aspek lain yang patut diperhatikan adalah posisi kepala. Setelah semua sudah dianalisis, ada satu pemeriksaan lagi yang mesti dilakukan. Pemindaian telapak kaki untuk mengetahui jenisnya sekaligus sisi yang mendapatkan beban paling berat saat melakukan aktivtas dan juga pembagian beban tubuh di kedua kaki.

"Lari itu kini tak bisa hanya sekadar lari. Dengan analisis ini, lalu bisa ditentukan latihan cocok," kata seorang Sports Scientist, Janson Ongko.

"Pada prinsipnya tubuh itu harus seimbang. Kalau ada yang terlalu kencang harus sedikit dikendurkan. Sementara kalau ada yang terlalu lemah harus dilatih," imbuhnya.

Dalam acara kumpul sehat ini, Puma juga memperkenalkan sepatu barunya, IGNITE Ultimate. Sepatu yang merupakan perbaikan dari versi sebelumnya ini masih mengandalkan kenyamanan foam sebagai kelebihannya.

"Sepatu ini dirancang untuk lari 5K. Midsole sepatu ini menjadi unggulan, bagian belakang sepatu sedikit lebih tinggi agar bisa menjadi peredam yang lebih optimal," terang Jansen.

"Bagian tumit sepatu juga dilengkapi dengan fitur anti slip, sedangkan rongga di tengah outsole sepatu ini didesain agar bentuknya sesuai dengan bentuk kaki. Sementara 3 lapisan yang dibenamkan di sepatu ini akan membuat sepatu menjadi tak gampang panas."

"Dengan acara kumpul sehat ini, Puma ingin memberikan edukasi mengenai cara lari yang benar," imbuhnya. (cas/raw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com