Keputusan itu dibuat beberapa jam setelah gelar juara disematkan kepada Pouly, pebalap asal Perancis yang merupakan juara dua edisi sebelum ini dan sempat pula dinyatakan sebagai juara tahun ini.
Dalam rilis yang disampaikan oleh commisaire, Pouly dianggap melanggar kode disiplin UCI (Union Cycliste International, induk organisasi internasional olahraga sepeda) nomor 1.3.010. Tim Pouly, Sigha Infinite Cycling Team, juga terkena hukuman yang sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"UCI punya regulasi yang spesifik untuk sepeda. Sebelum balapan, Pouly ganti sepeda. Setelah finis, kita langsung cek sepedanya. Sayang sekali sepedanya tak sesuai dengan kententuan. Sehingga dia didiskualifikasi," jelas Chief Commissaire Najib Nasseri, saat merilis pembatalan juara Peter Pouly di Wisma Blambangan, Sabtu (14/5/2016).
![]() |
Alasan Peter Pouly didiskualifikasi lantaran sepeda yang ia gunakan saat etape empat melanggar batas yang telah ditentukan. Batas minimum sepeda yang ditentukan oleh UCI sebesar 6.8 kilogram. Namun dalam kejuaraan ini Pouly terbukti memggunakan sepeda yang lebih ringan dari ketetapan.
"Sepedanya terlalu ringan. Batas minimum sepeda adalah 6.8 kilogram. Tidak boleh lebih ringan. Tapi sepeda milik Pouly kurang dari enam kilogram," imbuh Nasseri.
Sementara itu, melalui akun Facebook-nya Pouly menjelaskan bahwa sepedanya mengalami kerusakan frame sebelum lomba sehingga harus dilakukan pergantian sepeda semenit sebelum start di Muncar.
Alasan itu ditolak Nasseri. Pria asal Iran itu menjelaskan seharusnya manajemen Singha paham akan aturan mengenai spesifikasi sepeda. "Itu alasan yang tidak bisa diterima. Untuk kasus Pouly, hanya masalah sepeda yang digunakan hari ini saja."
Sementara itu, menurut Commisaire Martin Bruin, kasus ini tak akan berdampak pada kejuaraan ITdBI itu sendiri. Sebab ini kesalahan personal atau tim, bukan pihak penyelenggara.
"Ketika ada kasus ini, kamu tidak bisa menyalahkan pihak penyelenggara," tutur pria asal Belanda tersebut.
Pouly Berencana Balik sebagai Manajer
Secara terpisah, sebelum keputusan diskualifikasi tersebut, Pouly sudah mengungkap rencana pensiun dari olahraga balap sepeda. Tapi ia berencana kembali ke Tour de Ijen tahun depan.
"Tahun depan saya ke sini tapi mungkin sebagai manajer tim. Saya tak bisa lagi melakukannya. Saya sudah 40 tahun," ujar Pouly.
![]() |
"Saat saya memenangi gelar ini pada 2014, istri saya sedang hamil. Saya bilang, saya mau menamai anak ini dengan nama Ijen. Tapi, dia tidak setuju," bebernya tentang kecintaan dirinya dengan Gunung Ijen.
Beberapa bulan kemudian, Pouly kembali bertarung di ITdBI. Saat hendak berangkat, istrinya berkata. "Kalau kamu menang lagi, kamu boleh menamai anak kita dengan nama Ijen," kata Pouly menuturkan perkataan istrinya.
Dan benar saja Pouly menang lagi. Anak kedua buah pernikahan mereka itupun dinamai Ijen. "Aijen", demikian Pouly melafalkannya.
"Tahun ini saya akan berhenti bersepeda. Dan tahun depan saya akan ke Ijen bukan untuk bertanding, namun saya ingin membawa istri dan anak saya ke sini. Untuk melihat gunung yang indah ini," katanya direspons sorakan penonton.
(krs/krs)













































