TdF sudah menyelesaikan lima etapenya. Para pebalap yang semuanya baru menyelesaikan Tour de Banyuwangi Ijen 11-14 Mei melanjutkan perburuan juara ke Nusa Tengara Timur. Mereka bertarung dari Larantuka sampai ke Labuhan Bajo.
TdF menjadi ajang balap sepeda jalan raya pertama di Flores. Bahkan, di level internasional TdF menjadi ajang pertama balap sepeda jalan raya di Indonesia Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka pun berniat untuk datang lagi kalau ajang serupa dihelat lagi tahun depan. Bukan cuma soal trek tapi juga penonton yang antusias.
"View-nya sungguh indah dan jalurnya sungguh berat. Tapi balapan di sini sangat menantang dan hebat, sangat fantastis. Buat saya sendiri balapan ini tidak mudah, tapi tim-tim lain bisa lebih mudah menjalaninya," kata Gerrad Wild dari Swiss Welness Cycling Team.
"Jalanannya sangat bagus dan halus, tidak bergelombang dan aman buat para pebalap. Itu bagus kan. Selain itu selalu ada polisi yang berjaga-jaga di sudut dan mau bilang agar saya lebih berhati-hati."
"Jalanan juga mengasyikkan karena banyak tanjakan. Selain itu penontonnya sangat luar biasa," tutur pebalap asal Australia tersebut.
Antusiasme serupa juga diutarakan pebalap Wisdom Hengxiang Cycling Team Liu Jiangpeng. Menurut dia, dari beberapa balapa sepeda di Indonesia yang pernah diikutinya, TdF menyuguhkan trek yang paling sulit.
"Setiap hari ada tanjakan. Dari etape-etape yang saya lewati cukup berat karena setiap hari ada tanjakan. Paling berat etape kedua, tanjakannya tajam dan panjang. Kami tidak tahu kapan tanajkannya akan selesai," kata Jianpeng kemudian tertawa.
"Kalau tahun depan ada lagi, kami akan ikut. Ini cukup menantang," imbuh dia.
(fem/cas)











































