Sempat ada usulan untuk mengalihfungsikan lapangan outdoor tenis di Gelora Bung Karno, namun itu menimbulkan polemik baru. Baru-baru ini, Pengurus Pusat Persatuan Lawn Tennis Indonesia (PP Pelti) menolak untuk diadakannya alih fungsi tersebut. Bahkan, mantan atlet tenis Yayuk Basuki, secara terang-terangan meminta kepada Menpora Imam Nahrawi supaya pengalihfungsian itu dipikirkan ulang.
Yayuk mengatakan itu di sela-sela Rapat Kerja Kemenpora dengan Komisi X di Gedung Parlemen MPR/DPR RI, pada Rabu (8/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu pun langsung ditanggapi Menpora Imam Nahrawi. Ia sepakat jika lapangan tenis yang berada di GBK tidak perlu semuanya dihilangkan. "Pasti ada yang dipertahankan," kata Imam.
"Namun sampai saat ini pun kami belum sepenuhnya memutuskan soal venue tersebut," ujar dia lagi.
Senada dengan Imam, Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Gatot S Dewa Broto, mengatakan sebenarnya ada dua opsi soal lapangan bisbol. Opsi tersebut muncul pada rapat yang ia pimpin tadi pagi antara PP Pelti dengan Pihak GBK, dihadiri KONI, KOI, juga Satuan Tugas Renovasi GBK.
Opsi pertama lapangan bisbol tetap dibangun di kawasan lapangan tenis GBK, namun dengan merubah desain lapangan yang ada. Opsi kedua ialah membangun di tempat selain lapangan tenis GBK, salah satunya ialah bekas lapangan golf driving range Senayan.
"Saya akui ada miss communication dari PP Pelti. Mereka menyangka seakan-akan lapangan tenis di GBK itu bakal hilang semua. Tapi kan tidak. Dua main court (lapangan utama) itu utuh. Mesti tidak dipakai untuk Asian Games, itu tetap direnovasi. Karena tenis digelar di Palembang," kata Gatot.
Akan tetapi PP Pelti keberatan jika hanya disisakan dua lapangan outdoor, dari 20 jumlah lapangan yang ada saat ini.
"Pelti keberatan bila di luar hanya disisakan dua lapangan saja disamping lapangan utama yang dipertahankan. Pak Maman (Wibowo Suseno Wirjawan, ketua PP Pelti) mengatakan, di luar setidaknya harus ada 14 lapangan, dan setelah saya hubungi Pak Nawier (Syahrir Nawier, Ketua umum Pengurus Besar persatuan Bisbol-Sofbol Indonesia). Beliau setuju dibangun lapangan minimalis," kata Gatot.
"Jadi sebenarnya sekarang itu tinggal tunggu komunikasi antara PP Pelti dengan PB Perbasasi saja seperti apa. Mereka itu kami (Kemenpora) minta cari solusi," tambahnya.
Gatot khawatir jika ini berlarut akan menggangu proses renovasi GBK oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada Juli mendatang.
Di luar itu, ternyata muncul opsi lain lapangan bisbol menggunakan tanah menggunakan driving golf range. Tapi lagi-lagi ini bersinggungan dengan pembangunan hutan kota.
"Jadi bangun lapangan bisbol dulu baru taman kotanya setelah Asian Games 2018. Cuma yang jadi masalah taman kota sudah menjadi komitmen dari pemerintah pusat, Presiden RI, Gubernur DKI Jakarta, dan Menteri Kehutanan. Karenanya, nanti saya akan minta solusi oleh Sekretaris Negara Pratikno terkait hal ini," Gatot menjelaskan.
(mcy/cas)










































