Pelatnas angkat besi memang tetap intensif karena event yang disasar, Olimpiade, tinggal dua bulan lagi. Konsekuensinya, atlet dan pelatih harus pintar-pintar menjaga kondisi terutama fisiknya.
Meski demikian, menurut pelatih kepapa Dirdja Wihardja, situasi ini bukanlah yang pertama, Ia percaya, atlet-atletnya sudah berpengalaman menghadapinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirdja mencontohkan, atlet yang berpuasa dilarang mengonsumi camilan gorengan saat berbuka. Juru masak juga diberi mandat khusus untuk memerhatikan betul-betul takaran kalori dan gizi dalam setiap masakan untuk para lifter.
"Di waktu berbuka, kami tidak menyediakan mereka goreng-gorengan. Biasanya kalau buka puasa memang enaknya seperti itu. Tapi untuk persiapan Olimpiade yang menyisakan sekitar 57 hari lagi, kami ingin lebih prepare lagi. Artinya lebih dimaksimalkan lagi nutrisinya. Kadar garam dalam makanan juga mulai dikurangi," tambahnya.
Penyesuaian lain adalah, jika sebelumnya atlet diberi asupan tiga suplemen, kali ini ditambah menjadi lima, khususnya bagi yang berpuasa.
"Suplemen ini satu sachet berisi 10 butir, yang terdiri dari banyak vitamin, zat besi, protein dan segala macam. Suplemen ini bagus dikonsumsi atlet setelah sahur agar saat latihan si atlet tidak begitu nge-drop," Dirdja menjelaskan.
![]() |
Selain itu jadwal latihan pun diubah. Biasanya pelatnas dilakukan dalam dua seri, yakni pukul 9 pagi dan 7 malam. Sejak masuk ramadan, sesi malam digeser menjadi sore hari.
"Kalau latihan malam dari jam 7 sampai 9. Habis itu mereka harus bangun jam 3 subuh untuk sahut. Kasihan atletnya karena recovery-nya terganggu. Maka itu kami memilih latihan pagi sore," ujarnya.
Eko Yuli, peraih meadli perunggu di Olimpiade 2008 dan 2012, mengaku tidak merasakan perbedaan yang signifikan dalam menu latihan di hari biasa dengan di bulan puasa.
"Puasa seperti biasa saja karena capeknya pun sama. Program yang dikasih pelatih juga tetap sama. Semua difokuskan pagi dan sore," ungkap pria asal Lampung ini.
Hal yang sama juga diakui Deni. Atlet yang akan turun di kelas 69 kg ini tetap menjalani puasa, meski di waktu tertentu ia tetap menyesuaikan dengan jadwal latihan.
"Kami puasa tetap puasa, latihan tetap latihan. Saya pribadi kalau memang latihannya satu kali ya puasa, tapi kalau latihan dua kali saya tidak puasa," ucapnya.
"Tapi sepekan ini alhamdulillah masih full, mungkin karena masih latihan ringan juga. Program beratnya baru masuk pekan depan," tambahnya.
![]() |
Berpuasa di tengah persiapan jelang multiajang memang bukan kali ini saja mereka alami. Saat Olimpiade 2012 di London mereka pernah melewati bulan ramadan, bahkan tantangannya lebih berat.
"Waktu di London saya justru tidak puasa sama sekali. Pertama karena perbedaaan waktu di sana. Waktu di London, buka puasanya bisa sampai setengah sepuluh malam. Itu berasa sekali. Kalau sekarang masih di Indonesia jadi mengikuti ritme di sini," tutur pria asal Jawa Barat ini.
Dirdja mengatakan, sepekan awal puasa dirinya belum memberikan program berat kepada lifter, karena masih melihat sejauh mana efek puasa dengan latihan yang dilakukan.
"Tapi tidak jadi alasan juga karena puasa lalu latihannya menjadi enteng. Kami tetap menyesuaikan dengan programnya, meski tidak terlalu turun drastis. Intinya kami tetap menjaga supaya progress-nya tetap naik, tidak turun drastis."
Bahkan Dirdja merasakan bahwa puasa memberi keuntungan tersendiri bagi si atlet, hanya memang harus diiringi pola makan buka puasa dan sahur yang baik.
"Soal berat badan atlet kami beri toleransi sampai 5 persen dari kelasnya masing-masing, dan sampai sekarang atlet masih di jalur itu," pungkasnya.
"Semua tergantung masing-masing daya tahan tubuh atletnya. Tidak bisa disamaratakan. Saya pribadi saat sahurnya saja diperbanyak minum vitaminnya," ungkap Eko.
Sementara Deni memilih mengakalinya dengan makan makanan berat saat buka puasa. Sedangkan di waktu sahur perbanyak susu, roti, dan suplemen.
"Sahur itu saya justru paling malas makan. Saya makan banyak setelah salat tarawih. Setiap jam isi sampai jam 12 malam saya bantai makan berat," kata dia.
Deni pun berharap di bulan yang penuh berkah ini dirinya mendapatkan kesempatan lebih di Olimpiade.
"Semoga dikasih kesempatan bertanding di Brasil," simpulnya.
(mcy/a2s)













































