Berjuang Menuju Olimpiade di Tengah Ramadan Bikin Triady Rindu Rumah

Berjuang Menuju Olimpiade di Tengah Ramadan Bikin Triady Rindu Rumah

Mercy Raya - Sport
Selasa, 14 Jun 2016 16:31 WIB
Berjuang Menuju Olimpiade di Tengah Ramadan Bikin Triady Rindu Rumah
Foto: ist (dokumentasi pribadi)
Jakarta - Perenang nasional Triady Fauzi Siddiq harus meninggalkan sementara ibadah puasanya demi menembus catatan waktu limit A kuliafikasi Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Saat ini Triady masih harus mengejar 0,41 detik untuk mendapat tiket ke Brasil.

Menjalani latihan di tengah Ramadan tidak mudah bagi seorang atlet. Mereka harus bisa menyesuaikan kondisi tubuh dengan latihan yang super ketat. Hal inilah yang dialami Triady. Ia terpaksa menunda ibadah puasa demi bisa mencapai mimpinya untuk bertanding di Olimpiade.

Bersama dua rekannya, I Gede Siman Sudartawa dan Glenn Victor, ia menjalani training camp di Australia. Mereka dilatih oleh dua pengajar nasional Albert C. Sutanto serta pelatih asing Gavin Uruqhuart. Sudah hampir dua bulan trio itu menjalani latihan di sana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai gambaran, untuk bisa menembus limit A 100 meter gaya kupu-kupu yaitu 52,36 detik, Triady harus bisa mengejar ketertinggalannya sebesar 0,41 detik. Awal Mei lalu, di Malaysia Open, pemuda asal Jawa Barat ini hanya berhasil membukukan waktu 52,77 detik. Akan tetapi, dia masih punya satu kesempatan lagi pada ajang Prancis Open pada 2-3 Juli 2016.

"Kalau kemarin hasil evaluasi dari pertandingan di Malaysia sebenarnya semua sudah oke. Pembalikan saya pun sudah jauh lebih baik. Mungkin hanya speed dan power yang harus lebih ditingkatkan lagi," kata Triady kepada detikSport lewat pesan singkatnya.

ist (dokumen pribadi)


Nah, untuk menunjang itu tentu harus ada yang dikorbankan. Salah satunya mengurungkan ibadah berpuasa. "Saya pribadi tahun ini tidak puasa dulu. Soalnya, sebelumnya coba puasa tetapi perfomanya jadi turun drastis. Apalagi sekarang harus fokus karena persiapan Olimpiade jadi ya mau tidak mau harus tidak puasa dulu. Ya gantinya bayar fidyah," ucap atlet kelahiran 29 September 1991 itu.

Diakui peraih dua medali emas SEA Games 2013 Myanmar ini ada rasa rindu yang menghinggapinya jika memasuki bulan ramadan. Selain pertemuan dengan keluarga, ia juga suka kangen dengan makanan-makanan khas bulan puasa, seperti kolak dan kolang-kaling berwarna merah.

"Di dekat rumah saya ada yang jualan makanan itu. Tempat itu jadi langganan aku sejak kecil sampai sekarang kalau puasa tiba. Itu yang buat aku kangen," ungkapnya.

Tak hanya soal puasa, Triady nyatanya juga harus berkorban soal lebaran. Ia terpaksa tidak bisa melakukan Sholat Ied dan berlebaran bersama keluarganya. "Saya baru pulang ke rumah itu lebaran hari kedua. Karena pertandingan di Prancis itu baru mulai 2 Juli. Jadi, ya begitu..."

Namun, Triady tak ingin berlarut dengan kondisi tersebut. Lebih dari itu, ia berharap apa yang dilakukannya saat ini bisa memberikan hasil yang terbaik di kemudian harinya. "Aamiin... semoga berhasil," harapnya. (mcy/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads