Indonesia berhak mendapatkan satu tiket atlet atletik putra setelah pelari marathon Agus Prayogo--sebagai harapan terakhir untuk lolos ke Olimpiade lewat kualifikasi--gagal mendapatkannya. Agus tak berhasil memenuhi limit waktu ke Olimpiade saat tampil di Gold Coast Marathon 2016, Australia, pada 3 Juli.
Memanfaatkan jatah itu, PB PASI mengajukan pelari 100 meter yang masih berusia 20 tahun, Sudirman. Sudirman juga dinilai mempunyai prestasi yang menjanjikan. Pelari asal Nusa Tenggara Barat itu berhasil membukukan waktu 10,47 detik. Saat itu ia berhasil mendahului pelari senior: Iswandi Abdullah dan Yaspi Bobi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada cabang atletik itu, jika suatu negara tidak bisa meloloskan atletnya lewat kualifikasi maka negara itu akan dapat satu jatah putra dan satu jatah putri. Nah, Indonesia sudah meloloskan Maria Londa, tapi atlet putranya belum. Otomatis, PB PASI mendapatkan satu jatah tiket. Ini bukan wildcard, tapi unqualified athlete quota (jatah atlet yang tidak terkualifikasi)," kata Tigor dalam obrolan dengan detikSport, Selasa (12/7/2016).
"Kami mempertimbangkan yang bisa mengisi kuota ini harus yang masih muda dan punya harapan. Lalu nomor yang dilombakan tidak ada restriksi. Misalnya, lempar lembing. Kalau kita ajukan lempar lembing, katakan lemparan kita tidak jauh, nah itu harus ada persetujuan dari technical delegated Olimpiade. Nomor lain juga. Kalau 100 meter tidak ada," Tigor menjelaskan.
"Di samping itu kami melihat Sudirman ini masih muda, cukup bagus, catatan waktu larinya juga bagus 10,47 detik. Karenanya, kami kirim supaya dia mendapat pengalaman yang banyak. Jadi walau tidak dapat medali kali ini, satu atau dua tahun lagi dia bisa beranjak," jelas Tigor. .
Dengan bergabungnya Sudirman, kontingen Olimpiade Indonesia diisi 26 atlet. Rinciannya, dua dari atletik, tujuh angkat besi, empat panahan, 10 bulutangkis, dua rowing, satu balap sepeda.
(mcy/fem)











































