PB ISSI Lamban Urus Visa, TC Toni ke AS Tak Jelas

PB ISSI Lamban Urus Visa, TC Toni ke AS Tak Jelas

Mercy Raya - Sport
Rabu, 13 Jul 2016 19:43 WIB
PB ISSI Lamban Urus Visa, TC Toni ke AS Tak Jelas
Foto: detikcom/dita
Banyuwangi - Meski sudah mengantongi tiket Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, persiapan Toni Syarifudin tak mulus. Rencana training camp Toni ke San Diego, Amerika Serikat masih belum jelas karena kelambanan PB ISSI mengurus administrasi.

Semestinya, Toni sudah berada di San Diego satu bulan sebelum digelarnya Olimpiade 2016. Artinya, seharusnya dia sudah menjalani persiapan di Negeri Paman Sam itu sejak 5 Juli.

Namun, hingga saat ini Pengurus Besar (PB) Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) belum selesai mengurus visa keberangkatan Toni. Padahal pebalap-pebalap terbaik dari luar seperti Brasil, Amerika, Kanada, dan Australia San Diego. Para pebalap itu memilih berlatih di sana karena lintasan supercross di lokasi itu adalah replika dari lintasan yang akan digunakan di Olimpiade nanti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelatih Toni, Dadang Haries Purnomo, menyebut keterlambatan itu mengganggu program latihan anak didiknya. Namun, dirinya juga tidak bisa berbuat banyak selain memaksimalkan lintasan yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur.

"Idealnya memang lebih lama lebih bagus karena perlu diakui atlet kita ini kurang dalam segi skill dan adaptasi sirkuit. Sementara di San Diego itu menyerupai lintasan dengan yang akan dipakai saat Olimpiade nanti. Selain itu perbedaan waktunya antara Amerika dengan Brasil itu tidak terlalu jauh jadi sekaligus aklimatisasi juga," kata Dadang, saat dihubungi detikSport, Rabu (13/7/2016).

Dengan belum adanya kepastian jadwal keberangkatan itu, tentu jatah latihan Toni di San Diego jadi semakin minim. Dengan banyaknya peminat yang berlatih di sana, masing-masing pebalap hanya diperbolehkan menggunakan trek supercrosss seminggu dua kali.

Dadang tidak ingin Toni meraih hasil konyol seperti saat tampil di kualifikasi Olimpiade pada kejuaraan di Kolombia. Toni gagal meraih tiket Olimpiade karena asing dengan tipe trek yang digunakan. Toni akhirnya lolos dengan status tiket jatah negara yang gagal lolos lewat kualifikasi.

"Di Kolombia itu Toni punya waktu adaptasi sekitar seminggu lebih tapi itu ternyata tidak bisa juga karena bukan sirkuit buat lomba, meski itu trek supercross. Tetapi karena karakter berbeda tetap anak-anak kesulitan," jelas Dadang.

"Mau diakali juga tidak bisa. Contoh kecil saja, panjang lintasan di Olimpiade itu 8-12 meter. Sedangkan di Banyuwangi itu jumpingnya sampai 5 meter. Intinya ya menerima apa yang ada dengan cara mematangkan skill Tony saja."

Terpisah, Ketua Umum PB ISSI, Raja Sapta Oktohari, mengakui belum beresnya visa Toni. Malah di tengah perjalanan muncul opsi latihan di tempat lain.

"Kemarin belum bisa diurus karena belum pasti apakah ke Australia atau Amerika. Jadi baru diurus sekarang. Tapi ini kami sudah urus visanya, mudah-mudahan minggu depan sudah bisa keluar dan tinggal berangkat," kata Oktohari.

"Tidak apa-apa waktunya kurang dari sebulan, minimal sudah mencoba. Selain itu untungnya juga di sana kan sudah banyak pebalap terbaik yang jajal trek jadi minimal transfer knowledge masih tinggi dan bagus buat Toni," ucap dia.

(mcy/fem)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads