Kostum defile kontingen Indonesia memang sempat ramai menjadi perbincangan di twitter tak lama setelah diluncurkan, Jumat (15/7/2016). Kostum dengan warna merah putih itu mendapatkan respons kurang sip dari netizen.
Ayu Dila yang juga penggiat di organisasi seni rupa Ruang Rupa, Jakarta, terkejut dengan pilihan desain kostum yang rencananya akan dikenakan atlet-atlet terbaik tanah air pada acara defile di upacara pembukaan Olimpiade Rio de Janeiro mulai 5 Agustus nanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia mempunyai banyak sekali baju adat dan kain adat. Jadi tak perlu literally harus batik lagi batik lagi. Ada lurik, tenun, dan sebagainya. Dan dengan desain itu, kostum jadi keberatan simbol, tidak kekinian. Lagipula, sebaiknya mulai tidak melulu jas, itu kan kebudayaan barat. Kita memiliki sorjan, ada baju kurung, dan banyak lagi yang bisa diolah.
"Terutama buat atlet wanitanya sepertinya sangat terlihat tidak anggun. Bagaimanapun atlet wanita tetap ingin tampil anggun, kan?" tutur Ayu Dila.
Ayu Dila juga mengatakan pemilihan desain dalam defile di Olimpiade kali ini memang butuh kerja lebih serius, tak bisa sembarangan. Sebab, kostum defile Indonesia di Olimpiade 2012 London menuai pujian dan masuk sepuluh besar kostum terbaik pada defile upacara pembukaan.
"Ini seperti mengulang maskot Asian Games yang seperti ayam ketimbang cenderawasih seperti maunya. Waktu itu, Kemenpora mengakui tidak melibatkan ahlinya. Kenapa kini juga tidak melibatkan asosiasi perancang busana? Mau sehebat apapun filosofinya kalau terlihat seperti itu, ya tidak akan terlihat bagus. Orang awam tidak akan peduli dengan konsep tapi terlihat seperti apa.
"Olimpiade itu, apalagi defile di acara pembukaan, adalah salah satu cara branding negara. Kita mempunyai banyak desainer, asosiasi juga ada. Apa tidak ada koordinasi dengan ahlnya agar negara ini juga keren dan membanggakan dalam acara defile di upacara pembukaan nanti?" sesal dia.
(fem/krs)










































