Selama ini, di hampir setiap event besar, seperti SEA Games atau Asian Games, seringkali extra official (pendukung atlet) yang harusnya tidak berkepentingan tahu-tahu ada di lapangan. Selain tidak efektif, keberadaan mereka juga bisa memboroskan biaya. Terlebih anggaran untuk kontingen pun sering pas-pasan.
Sekretaris Jenderal KOI, Doddy Iswandi, mengungkapkan pihaknya akan lebih ketat dalam memilih ekstra ofisial untuk ikut ke Olimpiade. Pihaknya bahkan telah melakukan prarapat guna memutuskan siapa yang akan diberangkatkan ke Brasil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia sudah meloloskan 28 atlet. Berdasarkan ketentuan, Indonesia hanya mendapatkan 50 persen dari jumlah atlet yang lolos. Itu artinya Indonesia hanya mendapatkan 15 akreditasi untuk bisa masuk atlet village.
Sementara sisanya yang tidak mendapatkan akreditasi akan tinggal di Rio Centro, lokasinya berdekatan dengan wisma atlet.
"Kontingen kita kan kecil, tapi kebutuhan kita yang lain banyak seperti masseur, dokter. Jadi cara membaginya adalah dengan memasukan satu dokter yang standby di atlet village, misalnya. Sisanya ada yang di tempat lain berdekatan dengan wisma atlet. Jadi satu kita standby di wisma, kemudian dua dokter yang lainnya di luar," ujarnya.
"Yang jelas kami di sini mencoba memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan atlet. KOI ini kan mesti siap-siap juga, kita ini akan menjadi tuan rumah ada Asian Games 2018, jadi buat apa kita ramai-ramai ke sana, kalau di depan mata kita punya tugas yang lebih berat," pungkasnya. (mcy/din)











































