28 tahun lalu, untuk pertama kalinya Indonesia berhasil memboyong medali ke tanah air. Saat itu, Indonesia meraih medali pertamanya di Olimpiade 1988 Seoul dari cabang panahan beregu putri. Trio Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani menjadi srikandi Indonesia.
Harapan besar muncul ketika Olimpiade 1992 Barcelona, lagu Indonesia Raya sukses dikumandangkan. Cabang bulutangkis atas nama Susi Susanti (tunggal putri) dan Alan Budikusuma (tunggal putra) berhasil mencatatkan torehan manis dengan mempersembahkan medali emas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya ada lima harapan dari pemerintah, yang pertama kembalikan tradisi emas. Yang kedua, pemerintah sudah memfasilitasi semaksimal mungkin. Saya (memang) tidak mengatakan seluruhnya karena buktinya angka Rp 35 miliar sudah relatif. Tapi wajar jika pemerintah menuntut do the best kepada atlet," kata Gatot.
Namun, Gatot juga mengimbau agar atlet jangan sampai mempunyai perasaan under pressure (tertekan). Karena menjadi atlet harusnya sudah tahu risiko yang bakal dihadapi.
"Sudah menjadi risiko seorang atlet akan menjadi bidikan siapapun. Sama seperti pejabat yang harus siap di-bully oleh siapapun, jadi atlet juga harus siap untuk mengemban target yang dibebankan pemerintah mapun masyarakat," lanjut dia.
Ia juga menambahkan, jika ada masalah yang dihadapi oleh atlet sebaiknya disampaikan dengan baik kepada CdM, ofisial, maupun pelatih yang ada.
"Ini juga mengutip perkataan peraih medali emas Olimpiade, Taufik Hidayat, bahwa yang tahu persis kita dapat medali atau tidak adalah diri sendiri. Jadi katakan sejujurnya jangan sampai asal ABS (Asal Bapak Senang) saja. Hal ini juga bukan berarti mengajarkan atlet untuk pesismistis tetapi supaya CdM maupun pelatih bisa menyiapkan langkah lain. Jadi poinnya adalah kenalilah diri sendiri dan sampaikan kepada orang terdekat," ujar Gatot.
"Imbauan terakhir adalah jika bertanding beregu pastikan satu sama lain punya chemistry yang nyambung. Jangan sampai orang punya keinginan tapi kitanya tidak tahu. Jadi kalau bisa bermimpi, ya punya mimpinya bareng," pungkasnya.
(mcy/din)











































