'Atlet Jangan Merasa Terbebani Target, Jangan Ragu Juga Curhat ke Ofisial'

'Atlet Jangan Merasa Terbebani Target, Jangan Ragu Juga Curhat ke Ofisial'

Mercy Raya - Sport
Selasa, 19 Jul 2016 20:28 WIB
Atlet Jangan Merasa Terbebani Target, Jangan Ragu Juga Curhat ke Ofisial
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Indonesia telah meloloskan 28 atletnya ke Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Pemerintah pun menyodorkan harapan dan imbauannya kepada atlet yang akan berjuang di Brasil nanti. Apa saja?

28 tahun lalu, untuk pertama kalinya Indonesia berhasil memboyong medali ke tanah air. Saat itu, Indonesia meraih medali pertamanya di Olimpiade 1988 Seoul dari cabang panahan beregu putri. Trio Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani menjadi srikandi Indonesia.

Harapan besar muncul ketika Olimpiade 1992 Barcelona, lagu Indonesia Raya sukses dikumandangkan. Cabang bulutangkis atas nama Susi Susanti (tunggal putri) dan Alan Budikusuma (tunggal putra) berhasil mencatatkan torehan manis dengan mempersembahkan medali emas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak itu, cabang bulutangkis hampir selalu langganan emas, dimulai dari ganda putra Rexy Mainaky/Ricky Soebagdja (atlanta 1996), Tony Gunawan/Chandra Wijaya (Syney 2000), lalu tunggal putra Taufik Hidayat (Athena 2004), dan terakhir Hendra Setiawan/Markis Kido (Beijing 2008). Sayang Olimpiade 2012 London Indonesia justru tumpul medali emas. Tradisi yang sempat hilang itu pun diharapkan bisa kembali di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, Brasil. Dengan diperkuat 28 atlet dari tujuh cabang olahraga. Tak hanya bulutangkis, cabang lain pun diharapkan bisa merebut medali emas.

"Sebenarnya ada lima harapan dari pemerintah, yang pertama kembalikan tradisi emas. Yang kedua, pemerintah sudah memfasilitasi semaksimal mungkin. Saya (memang) tidak mengatakan seluruhnya karena buktinya angka Rp 35 miliar sudah relatif. Tapi wajar jika pemerintah menuntut do the best kepada atlet," kata Gatot.

Namun, Gatot juga mengimbau agar atlet jangan sampai mempunyai perasaan under pressure (tertekan). Karena menjadi atlet harusnya sudah tahu risiko yang bakal dihadapi.

"Sudah menjadi risiko seorang atlet akan menjadi bidikan siapapun. Sama seperti pejabat yang harus siap di-bully oleh siapapun, jadi atlet juga harus siap untuk mengemban target yang dibebankan pemerintah mapun masyarakat," lanjut dia.

Ia juga menambahkan, jika ada masalah yang dihadapi oleh atlet sebaiknya disampaikan dengan baik kepada CdM, ofisial, maupun pelatih yang ada.

"Ini juga mengutip perkataan peraih medali emas Olimpiade, Taufik Hidayat, bahwa yang tahu persis kita dapat medali atau tidak adalah diri sendiri. Jadi katakan sejujurnya jangan sampai asal ABS (Asal Bapak Senang) saja. Hal ini juga bukan berarti mengajarkan atlet untuk pesismistis tetapi supaya CdM maupun pelatih bisa menyiapkan langkah lain. Jadi poinnya adalah kenalilah diri sendiri dan sampaikan kepada orang terdekat," ujar Gatot.

"Imbauan terakhir adalah jika bertanding beregu pastikan satu sama lain punya chemistry yang nyambung. Jangan sampai orang punya keinginan tapi kitanya tidak tahu. Jadi kalau bisa bermimpi, ya punya mimpinya bareng," pungkasnya.

(mcy/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads