Seringnya ofisial pendukung yang tiba-tiba hadir pada saat penyelenggaraan multievent suka membuat geleng-geleng kepala. Sebab, keberadaan mereka terkadang kerap mengorbankan pentingnya akreditasi tim dalam kontingen. Padahal fungsi dan tugasnya juga tidak terlalu berpengaruh pada perfoma kontingen.
Di Olimpiade Rio de Janeiro, Menpora tak menginginkan hal itu terjadi lagi. Ia pun terus mengawasi dan berkoordinasi baik dengan KOI maupun CdM Kontingen Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penunjukan siapa yang bakal menerima akreditasi sendiri ditentukan oleh KOI. Sebelumnya, Sekretaris Jenderal KOI, Doddy Iswandi, mengungkapkan pihaknya akan lebih ketat dalam memilih ekstra ofisial untuk ikut ke Olimpiade. Pihaknya bahkan telah melakukan prarapat guna memutuskan siapa yang akan diberangkatkan ke Brasil.
"Makanya mestinya ada prioritas mana yang betul-betul mendampingi atlet, katakanlah pelatih, atlet, manajer, dokter, ada masseur, yang lainnya saya kira tidak penting untuk datang," ujarnya.
"Termasuk saya pun kalau tidak ada undangan atau izin dari presiden, ngapain? Saat ini yang penting bagaimana atlet bisa mengibarkan merah putih. Jika hanya sekadar ingin lihat lebih baik menggunakan biaya pribadi lebih bagus. Jangan mengandalkan uang negara," kata dia lagi.
Atlet Indonesia yang akan tampil di Olimpiade 2016 berjumlah 28 orang, yang berasal dari 7 cabang olahraga, yaitu bulu tangkis (10), angkat besi (7), panahan (4), dayung (2), atletik (2), renang (2), dan balap sepeda (1).
(mcy/a2s)











































