Dapat Tiga Medali dari Olimpiade, Indonesia Dinilai Tidak Maksimal

Dapat Tiga Medali dari Olimpiade, Indonesia Dinilai Tidak Maksimal

Mercy Raya - Sport
Jumat, 26 Agu 2016 19:59 WIB
Dapat Tiga Medali dari Olimpiade, Indonesia Dinilai Tidak Maksimal
Foto: Reuters
Jakarta - Wakil Ketua Umum Komite Olimpiade (KOI) Indonesia, Muddai Madang, menilai tiga medali yang didapat kontingen Indonesia bukan hasil maksimal.

Olimpiade 2016 telah rampung dilaksanakan sejak 21 Agustus lalu. Dari perolehan medali, Indonesia hanya berhasil memboyong tiga medali. Satu-satunya medali emas berasal dari sbulutangkis nomos ganda campuran melalui pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Sedangkan dua medali perak dipersembahkan Sri Wahyuni kelas 48 kg dan Eko Yuli Irawan kelas 62 kg.

Padahal sebelum berangkat ke Rio de Jainero, KOI menargetkan tiga medali emas bisa dibawa pulang ke tanah air dari multievent terakbar tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menurut hitung-hitungan secara teknis antara KOI dan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) secara umum kami senang ada peningkatan prestasi dari Olimpiade 2012 London ke 2016 Rio. Tetapi kami sebagai pemangku olahraga, kok rasanya prestasi itu belum maksimal," kata Muddai lewat sambungan telepon pada Jumat (26/8/2016).

Hal ini dikatakan dia karena melihat potensi dan kualitas dari para atlet yang semestinya bisa berbuat lebih maksimal dibandingkan hasil kemarin. Dia mencontohkan, ganda putra cabang bulutangkis Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang cukup di luar dugaan karena kalah di babak penyisihan.

"Untuk ganda campuran memang kami memprediksikan mereka mendapat medali emas, yang meleset adalah ganda putra. Mereka kalah di babak penyisihan dan itu sangat di luar dugaan," sesalnya.

Di samping itu, cabang angkat besi yang sebetulnya pihaknya menargetkan dua medali emas atas nama Sri Wahyuni (48 kg) dan Eko Yuli Irawan (62 kg) justru hanya mendapatkan medali perak.

"Angkat besi itu sebetulnya kami menargetkan dua emas untuk Sri dan Eko, tapi kita nasibnya beruntung, begitu Triyatno harusnya bisa mendapat medali. Artinya kami KOI, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Satlak Prima kurang happy-lah karena menurut hemat kami, kalau mau ngomong sombong itu 4 (emas), tapi tiga medali (emas) itu harusnya wajar," katanya.

Kendati begitu, disadari Muddai, bahwa ke depan seluruh stakeholder (pemangku kepentingan olahraga) harus lebih jeli lagi dalam me-manage kontingen khususnya atlet. "Saya tidak mengatakan Sri ada kesalahan tapi kalau kita sabar tidak terburu-buru mungkin kejadiannya beda," ujarnya.

"Ke depan, memang kita itu harus punya cabang olahraga basic untuk meriaih medali, misalnya kita harus fokus di cabor yang mana kita harus memahami benar kondisi atlet teknis maupun fisik. Jika fisik kecil jangan main di menengah ke atas, Lalu menembak, kami akan coba dengan TNI Polri untuk dimasukan menjadi atlet. Termasuk juga cabang-cabang bela diri. Skill itu harus dilatih tajam terus tidak bisa istirahat."

"Pemerintah support cukup kuat tapi kalau duitnya tidak ada mau ngomong apa? Artinya kita harus memilih cabor yang betul-betul punya potensi, seperti bulutangkis, angkat besi, panahan, biliar, itu harus (pelatnas) kontinue, tidak boleh putus, feeling dilatih terus," pungkasnya. (mcy/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads