Dalam pernyataannya, Ahmad Heryawan mengatakan pelepasan sepasang Surili diharapkan dapat membentuk koloni atau kelompok baru di kawasan Patenggang. Surili yang dilepas harus hidup bebas agar bisa berkembang biak, dan populasinya dapat terjaga. Disebut gubernur yang akrab disapa Aher itu, saat ini ada sekitar 40 ekor Surili yang hidup di kawasan Cagar Alam Patenggang.
"Diketahui bahwa hewan ini endemik Jawa Barat asli dari sini. Dia hewan yang aktif, berjamaah dan herbivora pemakan buah-buahahan," kata Aher di Situ Patenggang usai melepas sepasang Surili, Rabu (7/9/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aher sendiri menginginkan agar Surili yang telah dilepas dapat menambah populasi dan melestarikan hewan yang hampir punah ini. Tidak banyak populasi Surili di Jabar yang hidup saat ini.
![]() |
"Sekarang ekosistem hewan aktif ini kurang dari 300 ekor yang terdiri dari 1.500 kelompok khusus di Jawa Barat," kata Aher.
Aher mengungkapkan, faktor tersebut akibat ulah dari manusianya sendiri. Sistem perburuan liar untuk menangkap Surili membuat perkembang biakan di alam liar menjadi berkurang.
"Faktornya kepunahan adalah dari perilaku manusia, ini hal paling menentukan yang paling membuat hewan berkurang dari jumlahnya. Karena banyak perburuan liar untuk menjadikan Surili sebagai hewan peliharaan," tutur Aher.
Setelah pelepasan Lala dan Lili di area Situ Patenggang maka dapat menambah kehidupan Surili di beberapa lokasi yang menjadi habitat mereka hidup selama ini.
"Banyak ya ekosistemnya ada di Gunung Salak, Kawah Kamojang, Lembang, Rawa Danau di Banten, Gunung Putri di kawasan Puncak Cianjur," ujar Aher.
Sebagai maskot PON, Surili adalah identitas Jawa Barat. Surili juga dinilai sebagai lambang agar Jawa Barat bisa bersinergi dan bersatu dengan daerah lainnya sebagai satu kesatuan dari Indonesia. Lengkingan suara Surili menjadi semangat para atlet PON tuan rumah.
"Membangkitkan kesadaran, rasa memiliki dan rasa cinta kepada Jawa Barat, Kesenian, budaya dan sosial, dan melindungi hewan Jabar," kata Aher.
Ia menambahkan, konservasi terhadap hewan endemik ini telah dilakukan sejak 1988. Keberadaannya, menurut Aher, akan sangat menguntungkan terhadap kelestarian alam, menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan baru.
"Tuhan melestarikan sebagaian alamnya. Dimana buah dengan cara dimakan lalu bijinya berjatuhan di berbagai tempat dan itu muncul tumbuhan baru," ucap Aher.
Dalam pelepasan tersebut, Aher di dampingi oleh Kepala BKSDA Jawa Barat, Sylvana Ratina, dan jajaran dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, dan turut di hadiri oleh perwakilan dari Polda Jawa Barat dan Kodam III Siliwangi. (din/mfi)












































