Sukses TAFISA Bisa Membuka Kepercayaan Negara Lain Soal Asian Games 2018

Sukses TAFISA Bisa Membuka Kepercayaan Negara Lain Soal Asian Games 2018

Mercy Raya - Sport
Kamis, 08 Sep 2016 00:55 WIB
Sukses TAFISA Bisa Membuka Kepercayaan Negara Lain Soal Asian Games 2018
Foto: dok. Kemenpora
Jakarta - Menpora Imam Nahrawi berharap TAFISA (The Association for International Sport for All) World Games 2016 sukses. Pasalnya, kesuksesan TAFISA bisa membuat kepercayaan negara-negara lain terhadap Indonesia meningkat untuk bisa menggelar event-event internasional lainnya.

Selain menggelar TAFISA pada 6-12 Oktober di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Indonesia juga tengah ditunggu "beban" lainnya, yakni menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

Sejauh ini sudah ada 4.700 peserta dari total 74 negara yang dipastikan akan berpartisipasi dalam TAFISA. Jumlah tersebut masih akan terus bertambah mengingat jangka waktu penutupan pendaftaran adalah akhir September ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai awalan, TAFISA tentu bisa menjadi "percobaan" yang positif untuk melihat keseriusan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan multievent internasional.

"Kalau TAFISA berhasil, negara lain bisa percaya dengan kita. Saya ingin melalui TAFISA kita dapat meyakinkan negara luar bahwa kita bisa menjadi tuan rumah penyelenggaraan event internasional, tak hanya Olimpiade, tetapi juga Asian Games, SEA Games, Piala Dunia, MotoGP, dan kejuaraan internasional lainnya," ujar Imam usai rapat teknis TAFISA di Auditorium Wisma Kemenpora, Senayan, Rabu (7/9/2016).

Selain berharap sukses, Menpora juga mengharapkan agar anggaran sebesar Rp 230 miliar yang disediakan untuk TAFISA bisa dimaksimalkan sebaik mungkin. "Dibutuhkan pertanggungjawaban dari masing-masing tupoksi (deputi) secara rinci. Saya tidak ingin hajatan yang besar ini mendapat gangguan dari luar. Karena itu Panitia pelaksana yang menggunakan anggaran harus ada pertanggungjawabannya masing-masing yang baik dan sesuai peruntukannya," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (Formi), Hayono Isman, mengaku siap mengemban tugas untuk menyukseskan event tersebut. Kendati baru pertama kali menggelar acara yang merupakan Olimpiade-nya olahraga rekreasi ini dan dengan dana yang terbatas, namun ia optimistis penyelenggaraan TAFISA bakal sukses.

"Ini memang beban tapi ini adalah perjuangan karena kita hadir sebagai relawan, dan harus dipastikan berhasil karena yang kita bawa adalah nama negara," kata Hayono.

"Jadi kalau kita berhasil memberi kesan kepada tamu-tamu peserta dari luar negeri, harapannya tentu ketika mereka kembali ke negaranya bertemu teman dan keluarganya bisa berbicara kalau Indonesia itu hebat. Sehingga mereka akan datang kembali ke Indonesia. Tentu itu yang ingin kami raih, sehingga dari 4.700 peserta yang sudah memastikan hadir akan menjadi juru bicara Indonesia," harap dia.

Sebagai Olimpiade-nya olahraga rekreasi, TAFISA dibentuk di Bordeaux, Prancis, pada September 1991, awalnya TAFISA merupakan singkatan dari Trim And Fitness International Sport for All Association. Saat itu lebih 40 negara sepakat meletakkan pondasi pembentukan organisasi yang menaungi olahraga tradisional masyarakat dunia, maupun cabang olahraga yang tidak dipertandingkan di Olimpiade.

Di tahun yang sama, pengurus TAFISA mendaftarkan statuta ke pengadilan Frankfurt, Jerman, dan mulai bekerja serius mempersiapkan TAFISA World Gamesβ€” sebuah olimpiade bagi olahraga masyarakat nonprestasi.

Cikal-bakal TAFISA sebenarnya telah ada sejak 1960-an. Bermula dari pertemuan reguler sejumlah pemimpin yang tertarik mengembangkan olahraga masyarakat. Mereka datang ke pertemuan tidak atas nama negara, tapi individu.

Kurang satu tahun setelah pembentukan TAFISA, edisi pertama event olahraga masyarakat dunia digelar di Bonn, Jerman. Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 1996, edisi kedua digelar di Bangkok, Thailand, lalu di Hannover (Jerman) tahun 2000.

Montreal, Kanada, semestinya menjadi penyelenggara berikutnya di tahun 2004, tapi kemudian ditiadakan karena pihak tuan rumah tidak siap. Pada edisi selanjutnya (2008), Busan di Korea Selatan menjadi tuan rumah. Singkatan TAFISA pun diubah dari Trim And Fitness International Sport for All Association menjadi The Association For International Sport for All. Terakhir, TAFISA World Games diadakan di Siauliai, Lithuania, pada tahun 2012.

Hayono pernah mengatakan, pada event TAFISA mendatang, Indonesia bertekad mempromosikan berbagai olahraga rekreasi tradisional yang sudah berurat akar di masyarakat. Misalnya, dengan memperkenalkan permainan eggrang, terompah panjang, layang-layang, senam kreasi daerah dan senam poco-poco sebagai contoh, pencak silat budaya, sepeda tua (ontel), gulat tradisional dan sebagainya.

(mcy/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads